Kamis, 11 Desember 2014
Surat
Kamis, 16 Oktober 2014
Cerita Singkat #diary
Jiwa ini kembali tersedot dalam daya magisnya. Memberikan wadah akan segelintir rasa yang sempat kusematkan dengan dalam--sebuah hati yang pernah sedikit... mungkin tergores. Dan dirinya... Kini kembali berkelana liar--bebas memainkan perasaan ini.
Hati yang telah kututup rapat, bisikku. Tak ingin membiarkan lelaki lain untuk menyusup ke dalamnya. Seolah mencari celah, atau... seperti air yang perlahan merembes pada dinding kamar. Yang akhirnya kujumpai dinding kamar lembab setiap pagi.
Kini dinding itu kembali roboh. Bukan! Bukan dinding kamar yang memang lembab karena air. Tapi, sesuatu yang berbeda dalam diriku ini. Dalam perasaanku. Getir, sedikit berdegub, dengan getar yang sulit dijelaskan. Seperti dinding kamar mungkin--emosinya. Hanya saja, jauh lebih... luka.
Hidup itu seperti sebuah lingkaran. Saling berkaitan, dan selalu berhubungan. Begitulah caraku memandang hidup. Awalnya, aku dan dia hanya sebuah ujung. Yang nantinya akan berhenti pada satu titik akhir. Namun, alur ini mengembalikanku pada sebuah ujung yang pernah dimulai. Seperti lingkaran, mengembalikanku dan dia seperti ini lagi.
Selasa, 07 Oktober 2014
PENGHUJUNG SENJA : Wahyu Inda Syah P.
Senja itu mati. Yang telah lama meninggalkan luka dalam secarik sketsa. Sketsa yang pernah kita tulis dalam angan masa depan.
Ah, kamu. Kenapa harus kamu yang memberiku sakit seperti ini. Sakit yang tak pernah tahu waktu. Sakit yang tak pernah ingkar janji, sakit yang mencemburui kebahagiaan kita.
Oh, tidak. Bukan kita. Tapi... kebahagiaanmu. Bukankah begitu?
Kau tak pernah tahu waktu untuk datang kepadaku. Dan memberikan atmosfer dengan sinergi yang luar biasa. Maka, memang seharusnya kan, kau pergi juga tak tahu waktu. Di saat hati ini telah terpaut erat oleh daya magismu.
Senja mungkin cemburu. Di sini hanya tinggal bisikan malam. Lalu, harmoni itu ikut mati bersama senja yang menghilang. Bersama kepergianmu, yang tak pernah ku tulis dalam outlineku.
Oh, mungkin. Ah, seharusnya tak pantas aku menuliskan ini. Terlalu buruk. Atau... cukup menampar mukaku sendiri. Begitu burukkah?
Ah, tulisan ini. Tulisan dengan rasa yang terlalu kontras.
Oh, memang, bukankah kalimat yang indah justru muncul dari hati yang terluka kan? Bukan hati yang berbahagia?
Jumat, 19 September 2014
Kisah Inspirasi dari Muara Air
Air yang mengalir tidak pernah membenci sungai. Yang menuntunnya, kemana dia akan bermuara. Karena, jatuhnya pasti akan ke laut juga.
Lalu, aku ingin membiarkan kehidupan ini mengalir apa adanya. Seperi air. Membiarkan kemana arahnya bermuara. Mengikuti setiap langkahnya hingga menuju muara yang masih dirahasiakan. Kita tidak tahu arah muara itu. Apakah akan membawa kita pada sebuah kebahagiaan, atau justru sebaliknya. Semua ditentukan pada jalan yang kita lalui. Membiarkan begitu saja seperti air, atau mencoba mencari jalan lain yang lebih jelas muaranya?
Air yang mengalir di dasar sungai, ia pasti. Jatuhnya akan ke laut juga. Mau berapa lama, berapa banyak dia di sungai. Mau siang, atau malam. Mau beramai-ramai, atau sendirian.
Tapi kita, kita butuh muara yang pasti. Kita butuh laut yang jelas. Muara mana yang ingin kita singgahi. Laut mana yang ingin kita inginkan. Agar kita tahu, sungai mana yang bisa kita lalui. Untuk menghentikan kita pada sebuah laut yang kita cita-citakan. Laut yang kita impikan. Sebelum kita salah mengalir diantara sungai-sungai itu.
Bukankah, pepatah bilang, seribu langkah yang salah, awalnya hanya dikarenakan sebuah langkah yang salah.
kehidupan Seperti Mengayuh Sepeda
Cerita singkat inspirasi sebuah keluarga kecil
Kamis, 18 September 2014
Motivasi Bola
Dan, seandainya jika kita menggerakkannya, kira-kira, mau kita gerakkan ke arah mana bola itu? Ingin dilempar, ditendang, atau dipantulkan?
Kali ini, kita akan mencoba melemparkan bola kasti itu di dalam pikiran kita. Kita, sebagai pemegang kendalinya. Kita pedalnya.
Kita lemparkan dengan pelan bola kasti itu. Lihat, betapa kuat dan tinggi pantulannya. Lalu, coba kita lemparkan lagi bola itu dengan tenaga yang lebih kuat dari yang pertama. Dan kita lihat, berapa perbedaan hasil pantulannya pada bola yang kedua? Semakin kuat dan tinggikah? Begitu juga pada lemparan ketiga dengan tenaga yang lebih kuat lagi, lemparan selanjutnya, lemparan selanjutnya, hingga lemparan terakhir dengan seluruh energi kita yang paling maksimal.
Semakin kuat, dengan penuh energi, dan sungguh-sungguh kita melempar bola itu, maka semakin kuat dan tinggi pula pantulannya.
Begitu juga dengan hidup. Semakin kuat niat dan langkah kita, maka, semakin tinggi pula apa yang bisa kita raih.
Bahkan, untuk mendapatkan pantulan bola yang sangat tinggi, kita butuh mengeluarkan seluruh energi kita. Apalagi untuk mimpi kita, yang jauh lebih indah dari sekedar pantulan bola kasti.
Terinspirasi dari motivasi Merry Riana
Sonora Fm