Kamis, 11 Desember 2014

Surat



Surat,
Surat Kecil dari Masa Depan




Kita tak pernah tahu.  Ke mana hidup kita akan bermuara.  Membiarkannya terlepas dari pusarannya.  Atau, tetap terjebak.  Dalam pilinan waktu yang terus menuakan kita.
Dia bukan seperti air, yang akhirnya terlepas pada sebuah samudra.  Dia hanya partikel kecil, yang bersarang dalam diri seseorang—berjiwa besar.
Kau tahu, kini aku berada di lima belas tahun lebih tua dari hari ini.  Sungguh, aku datang dari sebuah sesal.
Anda, kamu masih aku cintai saat ini.  Lima belas tahun dari sekarang.  Surat ini sengaja aku datangkan dari lima belas tahun yang akan datang.  Di mana saat itu, semua ragaku sudah cukup tua.  Mataku mulai melemah, kulitku berkeriput hebat, daya ingatku memudar cepat, dan pikiranku mulai mengkristal kuat.  Seolah, surat ini adalah gambaran nyata akan kemampuanku yang tak terolah dan tak berbentuk dengan baik.  Buruknya tulisan, lebatnya penyesalan.
Dari sebuah masa, lima belas tahun yang akan datang.
Aku telah mendapatimu bersama kebahagiaan lain. kebahagiaan yang mendapatkan dirimu.  Tapi cukup mengoyakkan hatiku, mencambikku, dan memberiku... luka.
Seperti kaleng, begitu yang kurasakan.  Terseret di atas aspal.  Mengikuti, motor yang membawanya melaju kencang.  Dan diriku, semakin terkilir.
Aku tahu, sebuah sadar.  Kita sudah memunyai kitanya kita masing-masing.  Kitanya aku, dan kitanya kamu.  Kita yang berbeda.  Kamu bersama dia yang lain, dan aku... bersama dia yang lain.  Dia yang tak bisa menggantikanmu dalam ruang rasaku.
Surat ini sengaja aku datangkan dari masa depan untuk permohonan maaf padamu, Anda.  Yang tetap aku cintai.
Sungguh, sesal yang hebat, karena akhirnya aku baru mengakui.  Setelah lima belas tahun dari sekarang.
1.         Maafkan aku, aku tak pernah berkata jujur. Sehingga semua ini seolah, aku telah terperangkap jauh, dalam ruang yang cukup gelap.
2.         Maafkan aku, aku tak pernah mencoba untuk mempertahankan ambisiku.  Sehingga, aku tak bisa memiliki apa yang aku mau.  Sesuatu yang begitu berharga.
3.         Maafkan aku, aku tak pernah bergerak akan kemauanku.  Sehingga, aku hanyalah tetap seorang yang sama.  Walau, lima belas tahun telah berlalu dari sekarang.
Dan terakhir....
4.         Maafkan aku.  Aku memberikan sesal, yang seharusnya tidak pernah ada jika aku tidak seperti saat ini.
Sebuah sesal dari masa depan.
Dari sebuah masa, lima belas tahun yang akan datang.  Karena kekonyolanku, lima belas tahun silam sebelum aku menuliskan surat.
®


Oleh :
Aku, adalah nama dengan partikel kecil yang mencoba menyusup dalam jiwamu.

Kamis, 16 Oktober 2014

Cerita Singkat #diary

Jiwa ini kembali tersedot dalam daya magisnya.  Memberikan wadah akan segelintir rasa yang sempat kusematkan dengan dalam--sebuah hati yang pernah sedikit... mungkin tergores.  Dan dirinya... Kini kembali berkelana liar--bebas memainkan perasaan ini.

Hati yang telah kututup rapat, bisikku.  Tak ingin membiarkan lelaki lain untuk menyusup ke dalamnya.  Seolah mencari celah, atau... seperti air yang perlahan merembes pada dinding kamar.   Yang akhirnya kujumpai dinding kamar lembab setiap pagi.

Kini dinding itu kembali roboh.  Bukan!  Bukan dinding kamar yang memang lembab karena air.  Tapi, sesuatu yang berbeda dalam diriku ini.  Dalam perasaanku.  Getir, sedikit berdegub, dengan getar yang sulit dijelaskan.  Seperti dinding kamar mungkin--emosinya.  Hanya saja, jauh lebih... luka.

Hidup itu seperti sebuah lingkaran.  Saling berkaitan, dan selalu berhubungan.  Begitulah caraku memandang hidup.  Awalnya, aku dan dia hanya sebuah ujung.  Yang nantinya akan berhenti pada satu titik akhir.  Namun, alur ini mengembalikanku pada sebuah ujung yang pernah dimulai.  Seperti lingkaran, mengembalikanku dan dia seperti ini lagi.

Selasa, 07 Oktober 2014

PENGHUJUNG SENJA : Wahyu Inda Syah P.

Senja itu mati.  Yang telah lama meninggalkan luka dalam secarik sketsa.  Sketsa yang pernah kita tulis dalam angan masa depan.

Ah, kamu.  Kenapa harus kamu yang memberiku sakit seperti ini.  Sakit yang tak pernah tahu waktu.  Sakit yang tak pernah ingkar janji, sakit yang mencemburui kebahagiaan kita.

Oh, tidak.  Bukan kita.  Tapi... kebahagiaanmu.  Bukankah begitu?

Kau tak pernah tahu waktu untuk datang kepadaku.  Dan memberikan atmosfer dengan sinergi yang luar biasa.  Maka, memang seharusnya kan, kau pergi juga tak tahu waktu.  Di saat hati ini telah terpaut erat oleh daya magismu.

Senja mungkin cemburu.  Di sini hanya tinggal bisikan malam.  Lalu, harmoni itu ikut mati bersama senja yang menghilang.  Bersama kepergianmu, yang tak pernah ku tulis dalam outlineku.

Oh, mungkin.  Ah, seharusnya tak pantas aku menuliskan ini.  Terlalu buruk.  Atau... cukup menampar mukaku sendiri.  Begitu burukkah?

Ah, tulisan ini.  Tulisan dengan rasa yang terlalu kontras.

Oh, memang, bukankah kalimat yang indah justru muncul dari hati yang terluka kan?  Bukan hati yang berbahagia?

Jumat, 19 September 2014

Kisah Inspirasi dari Muara Air

Air yang mengalir tidak pernah membenci sungai.  Yang menuntunnya, kemana dia akan bermuara.  Karena, jatuhnya pasti akan ke laut juga.

Lalu, aku ingin membiarkan kehidupan ini mengalir apa adanya.    Seperi air.  Membiarkan kemana arahnya bermuara.  Mengikuti setiap langkahnya hingga menuju muara yang masih dirahasiakan.  Kita tidak tahu arah muara itu.  Apakah akan membawa kita pada sebuah kebahagiaan, atau justru sebaliknya.  Semua ditentukan pada jalan yang kita lalui.  Membiarkan begitu saja seperti air, atau mencoba mencari jalan lain yang lebih jelas muaranya?

Air yang mengalir di dasar sungai, ia pasti.  Jatuhnya akan ke laut juga.  Mau berapa lama, berapa banyak dia di sungai.  Mau siang, atau malam.  Mau beramai-ramai, atau sendirian.

Tapi kita, kita butuh muara yang pasti.  Kita butuh laut yang jelas.  Muara mana yang ingin kita singgahi.  Laut mana yang ingin kita inginkan.  Agar kita tahu, sungai mana yang bisa kita lalui.  Untuk menghentikan kita pada sebuah laut yang kita cita-citakan.  Laut yang kita impikan.  Sebelum kita salah mengalir diantara sungai-sungai itu.

Bukankah, pepatah bilang, seribu langkah yang salah, awalnya hanya dikarenakan sebuah langkah yang salah.

kehidupan Seperti Mengayuh Sepeda

Kita tahu, apa itu sepeda.  Sepeda adalah salah satu alat transportasi yang kita jalankan tanpa bantuan alat mesin.  Tapi dengan tenaga kita.  Dengan energi kita.  Kita mengayuhnya, mengayuhnya, dan terus mengayuhnya hingga mencapai tempat yang kita tuju.

Semakin kuat kita mengayuh, maka semakin cepat pula kita sampai ke tempat tujuan.  Semakin pelan kita mengayuh, maka semakin pelan pula kita sampai.

Lelah, memang.  Dan kita pasti butuh berhenti sejenak untuk beristirahat dalam perjalanan itu.  Semakin banyak dan lama waktu kita untuk beristirahat, maka akan semakin lama pula kita sampai ke tempat tujuan.  Bahkan, kita sering terlena saat kita di sini.  Menikmatinya, memanjakan diri kita, dan terlau nyaman untuk terus beristirahat.  Bahkan sampai tertidur karena lelahnya.

Seperti kehidupan, inilah fase sebuah perjuangan.

Bagiku, kita seperti orang yang sedang mengayuh sepedanya untuk mencapai suatu tujuan.   Semakin  cepat bergerak, semakin cepat sampai.  Dan terlalu banyak beristirahat, terlena di dalamnya, maka akan terlalu lama pula kita sampai.

Semua tergantung dari kemauan kita.  Kita ingin cepat sampai pada tempat tujuan kita, atau... Ingin berlama-lama untuk beristirahat.

Kita tidak tahu, Tuhan menyediakan umur kita berapa lama untuk mencapai apa yang kita impikan.

Cerita singkat inspirasi sebuah keluarga kecil

Han, tulisan yang seharusnya tidak pernah kau baca ini tak selayaknya melayang begitu saja.  Ku ukir dengan tinta, atau sisa pensil kemarin.  Dengan air mata, atau pun tanpa air mata.

Han, aku memandang jauh lebih nyata mengenai masa depan kita.  Masa depan yang tak pernah bertepi, sesuai dengan impian kita.  Tapi, membiarkan skenario Tuhan liar begitu saja menghinggapi jiwa kita.  Perasaan kita.

Sebahagia apa kau dengan rumah barumu?  Lihatlah anak kita yang menjerit di sini, Han.  Mungkinkah kau mendengarnya?

Kini umurnya sudah hampir tiga tahun, Han. Tanpamu.  Kau tidak saja meninggalkan istri sepertiku, tapi seorang anak yang tak tau apa-apa tentang kita.

Han, kenapa perempuan itu harus minta pertanggungjawaban kepadamu?  Dan kau menikahinya begitu saja? Lalu, meninggalkan rumah kita yang kini sepi tanpamu.

Han, lagi-lagi, aku hanya memanggilmu, Han.  Han yang dulunya suami dan ayah dalam keluarga kecil kita. Yang sekarang, entah tak ada kabarnya.



Apa yang kita tanam, akan kita panen dikemudian hari.  Jika saja aku menanamnya dengan baik, benar, sungguh-sungguh dan serius, maka... hasilnya akan baik.  Dan jika saja aku menanamnya dengan rasa malas, sikap negatif, dan hal yang buruk, niscaya... hasilnya juga akan buruk.

Kini, aku percaya bahwa apa yang kita kerjakan dan kita tanamkan pada diri kita dan diri orang lain sekarang, suatu saat... pasti kita menuai hasilnya.

Kamis, 18 September 2014

Motivasi Bola

Bola!

Apa yang ada di benak kita membaca kata itu?

Bola.
Sebuah benda berbentuk lingkaran yang sering dimainkan oleh anak kecil.  Bahkan, kaum dewasa juga.  Sebuah benda yang bisa kita tendang, kita lempar, kita pantulkan, sesuai dengan fungsi dan keinginan kita.

Kita tahu, sebuah bola kasti yang sering kita mainkan semasa kita kecil.  Bola tangan berwarna hijau pupus.  Benda itu tiada apa-apanya.  Dia tidak akan bergerak jika kita tidak menggerakkannya.  Dan kita, sebagai pemegang kendali dari bola itu.

Dan, seandainya jika kita menggerakkannya, kira-kira, mau kita gerakkan ke arah mana bola itu?  Ingin dilempar, ditendang, atau dipantulkan?

Kali ini, kita akan mencoba melemparkan bola kasti itu di dalam pikiran kita.  Kita, sebagai pemegang kendalinya.  Kita pedalnya.

Kita lemparkan dengan pelan bola kasti itu.  Lihat, betapa kuat dan tinggi pantulannya.  Lalu, coba kita lemparkan lagi bola itu dengan tenaga yang lebih kuat dari yang pertama.  Dan kita lihat, berapa perbedaan hasil pantulannya pada bola yang kedua?  Semakin kuat dan tinggikah?  Begitu juga pada lemparan ketiga dengan tenaga yang lebih kuat lagi, lemparan selanjutnya, lemparan selanjutnya, hingga lemparan terakhir dengan seluruh energi kita yang paling maksimal.

Semakin kuat, dengan penuh energi, dan sungguh-sungguh kita melempar bola itu, maka semakin kuat dan tinggi pula pantulannya.

Begitu juga dengan hidup.  Semakin kuat niat dan langkah kita, maka, semakin tinggi pula apa yang bisa kita raih.

Bahkan, untuk mendapatkan pantulan bola yang sangat tinggi, kita butuh mengeluarkan seluruh energi kita.  Apalagi untuk mimpi kita, yang jauh lebih indah dari sekedar pantulan bola kasti.


Terinspirasi dari motivasi Merry Riana
Sonora Fm