Han, tulisan yang seharusnya tidak pernah kau baca ini tak selayaknya melayang begitu saja. Ku ukir dengan tinta, atau sisa pensil kemarin. Dengan air mata, atau pun tanpa air mata.
Han, aku memandang jauh lebih nyata mengenai masa depan kita. Masa depan yang tak pernah bertepi, sesuai dengan impian kita. Tapi, membiarkan skenario Tuhan liar begitu saja menghinggapi jiwa kita. Perasaan kita.
Sebahagia apa kau dengan rumah barumu? Lihatlah anak kita yang menjerit di sini, Han. Mungkinkah kau mendengarnya?
Kini umurnya sudah hampir tiga tahun, Han. Tanpamu. Kau tidak saja meninggalkan istri sepertiku, tapi seorang anak yang tak tau apa-apa tentang kita.
Han, kenapa perempuan itu harus minta pertanggungjawaban kepadamu? Dan kau menikahinya begitu saja? Lalu, meninggalkan rumah kita yang kini sepi tanpamu.
Han, lagi-lagi, aku hanya memanggilmu, Han. Han yang dulunya suami dan ayah dalam keluarga kecil kita. Yang sekarang, entah tak ada kabarnya.
Apa yang kita tanam, akan kita panen dikemudian hari. Jika saja aku menanamnya dengan baik, benar, sungguh-sungguh dan serius, maka... hasilnya akan baik. Dan jika saja aku menanamnya dengan rasa malas, sikap negatif, dan hal yang buruk, niscaya... hasilnya juga akan buruk.
Kini, aku percaya bahwa apa yang kita kerjakan dan kita tanamkan pada diri kita dan diri orang lain sekarang, suatu saat... pasti kita menuai hasilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar