Senja itu mati. Yang telah lama meninggalkan luka dalam secarik sketsa. Sketsa yang pernah kita tulis dalam angan masa depan.
Ah, kamu. Kenapa harus kamu yang memberiku sakit seperti ini. Sakit yang tak pernah tahu waktu. Sakit yang tak pernah ingkar janji, sakit yang mencemburui kebahagiaan kita.
Oh, tidak. Bukan kita. Tapi... kebahagiaanmu. Bukankah begitu?
Kau tak pernah tahu waktu untuk datang kepadaku. Dan memberikan atmosfer dengan sinergi yang luar biasa. Maka, memang seharusnya kan, kau pergi juga tak tahu waktu. Di saat hati ini telah terpaut erat oleh daya magismu.
Senja mungkin cemburu. Di sini hanya tinggal bisikan malam. Lalu, harmoni itu ikut mati bersama senja yang menghilang. Bersama kepergianmu, yang tak pernah ku tulis dalam outlineku.
Oh, mungkin. Ah, seharusnya tak pantas aku menuliskan ini. Terlalu buruk. Atau... cukup menampar mukaku sendiri. Begitu burukkah?
Ah, tulisan ini. Tulisan dengan rasa yang terlalu kontras.
Oh, memang, bukankah kalimat yang indah justru muncul dari hati yang terluka kan? Bukan hati yang berbahagia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar