Jiwa ini kembali tersedot dalam daya magisnya. Memberikan wadah akan segelintir rasa yang sempat kusematkan dengan dalam--sebuah hati yang pernah sedikit... mungkin tergores. Dan dirinya... Kini kembali berkelana liar--bebas memainkan perasaan ini.
Hati yang telah kututup rapat, bisikku. Tak ingin membiarkan lelaki lain untuk menyusup ke dalamnya. Seolah mencari celah, atau... seperti air yang perlahan merembes pada dinding kamar. Yang akhirnya kujumpai dinding kamar lembab setiap pagi.
Kini dinding itu kembali roboh. Bukan! Bukan dinding kamar yang memang lembab karena air. Tapi, sesuatu yang berbeda dalam diriku ini. Dalam perasaanku. Getir, sedikit berdegub, dengan getar yang sulit dijelaskan. Seperti dinding kamar mungkin--emosinya. Hanya saja, jauh lebih... luka.
Hidup itu seperti sebuah lingkaran. Saling berkaitan, dan selalu berhubungan. Begitulah caraku memandang hidup. Awalnya, aku dan dia hanya sebuah ujung. Yang nantinya akan berhenti pada satu titik akhir. Namun, alur ini mengembalikanku pada sebuah ujung yang pernah dimulai. Seperti lingkaran, mengembalikanku dan dia seperti ini lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar