Surat,
Surat Kecil dari Masa Depan
Kita tak pernah
tahu. Ke mana hidup kita akan
bermuara. Membiarkannya terlepas dari
pusarannya. Atau, tetap terjebak. Dalam pilinan waktu yang terus menuakan kita.
Dia bukan seperti air,
yang akhirnya terlepas pada sebuah samudra.
Dia hanya partikel kecil, yang bersarang dalam diri seseorang—berjiwa
besar.
Kau tahu, kini aku
berada di lima belas tahun lebih tua dari hari ini. Sungguh, aku datang dari sebuah sesal.
Anda, kamu masih aku
cintai saat ini. Lima belas tahun dari
sekarang. Surat ini sengaja aku
datangkan dari lima belas tahun yang akan datang. Di mana saat itu, semua ragaku sudah cukup
tua. Mataku mulai melemah, kulitku
berkeriput hebat, daya ingatku memudar cepat, dan pikiranku mulai mengkristal
kuat. Seolah, surat ini adalah gambaran
nyata akan kemampuanku yang tak terolah dan tak berbentuk dengan baik. Buruknya tulisan, lebatnya penyesalan.
Dari sebuah masa, lima
belas tahun yang akan datang.
Aku telah mendapatimu
bersama kebahagiaan lain. kebahagiaan yang mendapatkan dirimu. Tapi cukup mengoyakkan hatiku, mencambikku,
dan memberiku... luka.
Seperti kaleng, begitu
yang kurasakan. Terseret di atas aspal. Mengikuti, motor yang membawanya melaju kencang. Dan diriku, semakin terkilir.
Aku tahu, sebuah sadar. Kita sudah memunyai kitanya kita
masing-masing. Kitanya aku, dan kitanya
kamu. Kita yang berbeda. Kamu bersama
dia yang lain, dan aku... bersama dia yang lain. Dia yang tak bisa menggantikanmu dalam ruang
rasaku.
Surat ini sengaja aku
datangkan dari masa depan untuk permohonan maaf padamu, Anda. Yang tetap aku cintai.
Sungguh, sesal yang hebat, karena akhirnya aku baru
mengakui. Setelah lima belas tahun dari
sekarang.
1.
Maafkan aku, aku tak
pernah berkata jujur. Sehingga semua ini seolah, aku telah terperangkap jauh, dalam
ruang yang cukup gelap.
2.
Maafkan aku, aku tak
pernah mencoba untuk mempertahankan ambisiku.
Sehingga, aku tak bisa memiliki apa yang aku mau. Sesuatu yang begitu berharga.
3.
Maafkan aku, aku tak
pernah bergerak akan kemauanku.
Sehingga, aku hanyalah tetap seorang yang sama. Walau, lima belas tahun telah berlalu dari
sekarang.
Dan terakhir....
4.
Maafkan aku. Aku memberikan sesal, yang seharusnya tidak pernah
ada jika aku tidak seperti saat ini.
Sebuah sesal dari masa depan.
Dari sebuah masa, lima belas tahun yang akan datang. Karena kekonyolanku, lima belas tahun silam
sebelum aku menuliskan surat.
®
Oleh :
Aku, adalah nama dengan
partikel kecil yang mencoba menyusup dalam jiwamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar