Kamis, 11 Desember 2014

Setelah Batas Senja





Yogyakarta,  Juli 2014.

“Pukul, pukul, ayo pukul!”
“…”
“Pukul aku!  Ya!  Pukul aku!  Tampar!!!”  Teriak wanita itu pada lelakinya.
Memuakkan.
***
Malam itu, setelah aku memesan menu Spicy Tuna Baked Rice  dan Fresh Apple Lasy di sebuah kafe masakan barat.
Aku sedikit membungkuk, mengambil sebuah kantong biru berisi kotak kado di samping kursiku.
Lukas, matamu yang kecoklatan, dan terlihat tajam saat kau menatapku.  Itu memberiku sinyal, untuk terus mencintaimu.  Kenyataannya, aku tidak bisa lepas dari semua itu.  Bibirmu yang manis, dan selalu tersenyum kepada setiap orang.  Itu membuatku mengerti, betapa kamu peduli kepada mereka.  Sikapmu yang ramah tanpa memandang rendah kepada siapapun.  Rambut hitammu yang sedikit bergelombang dan hampir menutupi telingamu itu, membuatmu jauh lebih keren dan manis di mataku.  Aku tidak bisa menolak semua kenyataan itu, Lukas.
Selama enam bulan, aku dan kamu menjadi kita.  Di sana tidak ada kehidupan antara aku dan kamu.  Tapi melebur menjadi kita.  Menyatukan dua kehidupan menjadi satu yang jauh lebih berwarna.
Tahukah engkau Lukas, sosok yang tenggelam dalam hatiku?  Jika waktu itu aku hanya memiliki sebuah kuas dengan warna hijau untuk melukis keindahan.  Maka, saat itu pula aku hanya mampu melukis tangkai, daun, atau sekedar bentangan padang rumput yang hijau.  Tak ada menariknya.
Buruk sekali bukan?  Tapi, setelah kamu datang menghampiriku membawa kuas dengan cat warna merahmu, semua berubah.  Kamu menyempurnakan goresan itu hingga terbentuk sebuah lukisan yang penuh arti.  Dengan kelincahan tangan kita memainkan kuas masing-masing dalam sebuah kanvas, pada saatnya, terbentuklah lukisan yang sangat cantik, indah, dan begitu sempurna.  Bermula dari dua umat manusia, dua hati, dua kepribadian, dua tangan, dan dua sifat pada goresan kuas.  Pada akhirnya bertemu dalam satu impian di atas kanvas.  Setangkai mawar merah milik kita.    Lukisan yang sangat indah ya, Lukas?  Ya, kamu menyempurnakan lukisanku, Lukas. Kamu hebat.
“Bukan aku, atau kamu.  Tidak ada aku, dan kamu disini.  Tapi kita.  Kita hebat,” katamu waktu itu sambil menanggalkan senyum dalam jiwaku.
Tidak hanya itu, Lukas.  Kau telah banyak melukiskan dan memberikan warna dengan kuasmu tidak hanya di kanvasku, tapi dalam kehidupanku.  Itu adalah lukisan nyata yang akan selalu kukenang sepanjang usiaku.  Mengubah hidupku yang monoton menjadi lebih kontras.
“Kita akan selalu memiliki seni yang indah untuk saling menyempurnakan kehidupan pasangan kita. Tahu kenapa?  Agar kita mendekati kesempurnaan cinta.  Menjadi sepasang kekasih yang indah.  Cinta sangat butuh seni, agar tidak ada rasa jenuh.  Karena aku tak ingin kita seperti itu.”  Katamu dulu.
Mengingat kejadian-kejadian kemarin membuatku semakin rindu kepadamu, Lukas.  Ya, malam ini aku ingin segera menjumpaimu, memelukmu, dan merasakan ketenangan dalam jiwaku.  Tepatnya, pada usiamu yang genap dua puluh empat tahun.  Betapa indahnya kenangan kita selama ini.
Aku selalu mengingatmu, mengingatmu, dan terus meingingatmu.  Di sini, di sana, di manapun berada.  Kemarin, saat ini, bahkan lusa, aku sudah mengingatmu.  Kepastian yang jelas bagiku.
Tik-tok tik-tok tik-tok…
Waitress itu tersenyum sembari meletakkan menu di mejaku.  Aku balik tersenyum kepadanya.  Pikiran ini masih terbayang akan ingatan tentang kita.  Mungkin itu yang membuat moodku lebih baik  dan memperlakukan waitress dengan sopan.
“Terimakasih.”  Kalimatku.
Waitress itu balik mengangguk.
Tahukah engkau, Lukas?  Selepas aku keluar dari kafe ini, aku akan segera ke rumahmu.  Menemuimu.  Memberikan ucapan dan doa di ulangtahunmu lengkap dengan rainbow cake kesukaanmu.  Menurutmu, rainbow adalah cake yang penuh dengan emosi kebahagiaan.  Warnanya yang tegas seperti pelangi memberikan kesan akan keceriaan dan banyaknya warna kehidupan.  Maka dari itu, kau lebih suka dengan cake yang satu ini.  Menyemangati kehidupanmu.
Ya, kamu orangnya seperti penenun, Lukas.  Menenun setiap kata yang sederhana menjadi magis dalam serapanku.  Kalimatmu selalu mengalir indah dalam pikiranku untuk kumaknai.  Lalu jatuh pada perasaanku.
“Coba, aku ingin kita memaknai dari sisi indera penglihatan.  Tahu kenapa, karena informasi pertama kali bermula dari apa yang kita lihat.  Brownies itu memang lebih manis.  Tapi, lihatlah warnanya yang selalu coklat.  Warnanya dominan.  Itu monoton.  Bagaimana jika kehidupan selalu didesain monoton seperti itu?  Kurasa mereka akan bosan. Seperti hidup yang hanya didesain dengan satu emosi saja, atau hal monoton lainnya.  Mereka akan bosan dan stress.”
Aku tak merespon.
“Lain dengan rainbow cake.  Lihatlah, dia penuh warna.  Kurasa, manusia tidak akan bosan dengan kehidupan yang lebih bervariasi.  Mereka akan jauh lebih bisa memaknai dan memahami kehidupan dengan banyaknya variasi dan kondisi yang berbeda.  Kita tidak akan hidup lebih baik hanya dengan satu rasa bukan?”  Katamu waktu itu.  Kata-kata itu terlalu indah kau ucapkan.
***
Setelah keluar dari kafe
Perjalanan yang cukup mendebarkan.  Sebelumnya aku memang sengaja tidak memberi tahu kalau aku akan ke rumahmu.  Tapi aku sangat yakin kalau kamu di rumah.  Setelah beberapa waktu tadi, kita yang lain saling bertukar info lewat whatshap.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit perjalanan dari kafe itu ke rumahmu.  Dan itu memicu adrenalinku.  Menjadi semakin cepat.
Motorku mulai memasuki Gang Kembang,  Jantungku berdegub semakin kencang.  Tidak ada siapapun di sana, malam begitu sepi.  Dinginnya angin sedikit memburu.  Aku membelokkan motorku ke kanan.  Aku berhenti mendadak.  Rumah deret ketiga dengan gerbang warna biru adalah rumahmu.  Aku terdiam.  Aku ingin membuat kejutan untukmu, Lukas.
Dengan keputusan yang kubuat secara mendadak, aku memarkirkan motor di tepi lahan kosong dekat pos ronda.  Di sana, aku mulai menghias rainbow cake kesukaanmu dengan lilin kecil yang berwarna-warni.  Bagimu, lilin-lilin kecil yang banyak jauh lebih baik karena mereka bersama-bersama untuk membentuk sebuah kekuatan cahaya menjadi satu yang lebih terang.
“Novia, tahu kenapa?  Aku lebih suka memberikan lilin-lilin kecil ini di kue ulangtahunmu daripada dua lilin dengan angka umurmu yang sekarang.  Itu karena mereka jauh memiliki kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan akan cahaya terangnya.  Mereka bisa menyinari setiap sisi kue ini.  Walaupun mereka tidak terlalu terang, tapi kebersamaan itu jauh lebih penting dalam mencapai tujuannya.”
“…”
“Seperti kamu.  Kamu baru akan bisa mencapai tujuanmu ketika bersama orang-orang di sampingmu, orang yang menyayangimu, orang yang saling merangkulmu.  Maka, capailah mimpi di usiamu ini bersama mereka.  Jangan pernah meninggalkan mereka.”
Aku terharu mendengar dan mengingat kalimatmu itu. kalimat itu kudapati di ulang tahunku empat bulan lalu.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh suara pintu gerbang yang tersentuh tangan manusia.  Suara roda pada gerbang yang bergesek dengan lintasannya terdengar cukup jelas.  Jantungku mulai berdegub lebih kencang.  Mungkinkah itu engkau Lukas, orang yang terus kucintai?  Engkaukah yang menggeser dan membukakan gerbang itu, hingga membuat badanku gemetar dan lemas?
Sebagian badannya yang membelakangiku masih terhalang tembok.  Itu membuatku masih menduga-duga dan belum begitu yakin.  Dan aku kira, sepertinya dia adalah kamu, Lukas.  Dari postur tubuhnya, sepertinya kamu.  Dan setelah dia keluar dari gerbang itu,ternyata dia adalah kamu Lukas.
Buruk bukan, aku memanggilmu dia.  Bukan bagian dari kita, atau kamu.
Aku berbalik badan, berharap kau tidak melihatku.  Aku semakin gemetar dengan rainbow cake di tanganku.  Waktu begitu cepat.  Aku mulai cemas.  Detak jantungku terdengar begitu jelas.  Aku berada di balik motor dan bersembunyi di dekat pohon pisang.  Untuk memastikan kau tak melihatku, aku sesekali menengok ke arahmu.  Dan pada suatu tolehanku, aku menemukan sebuah kejadian.
Atmosfer yang berbeda.
Benarkah atmosfer telah berubah?
Di bawah sinar lampu, kau mencium seorang wanita cantik yang tidak aku kenal.
Lukas?  Mataku terbelalak tajam.  Emosiku berubah.  Aku menyadari ada lonjakan emosional.    Aliran darah mengalir begitu cepat dalam tubuhku, terutama kepalaku.  Aku merasakan ada perubahan suhu tubuhku yang naik.  Napasku semakin kuat.
Aku tak percaya.  Pikiranku menolak atas apa yang aku lihat. Aku terpaku, mematung, membisu.  Badanku semakin gemetar hebat.
Kulihat, kau mendekapnya, mencium bibirnya,  menghusap rambutnya. Begitu lama.  Sangat lama, Lukas.  Pada perempuan yang bersandar di tiang lampu.  Perempuan anggun dengan rambut hitam lekat.  Menggunakan dress bunga-bunga selutut.  Sungguh bengis.
Itu tidak mungkin.  TIDAK MUNGKIN LUKAS!
Siapa itu Lukas!  Siapa?  Lukas, kamu…  oh.  Apa semua itu Lukas?  Aku tidak percaya kalau itu kamu Lukas!
Aku berteriak dalam hati.  Aku tak bisa berkata satu katapun melihat kejadian ini.  Sungguh, ini tidak mungkin.  Nafasku menjadi semakin tidak beraturan.  Aku lemas, aku benar-benar tersentak melihat apa yang aku lihat secara langsung.  Tidak mungkin kamu seperti itu.  Bukan begitu, Lukas?
Aku benar-benar ingin berlari menghampirimu biar aku puas jika itu bukan kamu Lukas.  Mana mungkin kamu melakukan hal itu.
Kuatur gejolak jiwaku.
Aku tidak dapat memberikan definisi dengan jelas keadaan disekitarku.  Aku tidak bisa teriak, marah.  Aku tidak bisa semua itu.  Persendianku melemah.
Rainbow cake yang tadi kupegang, aku tak memikirkannya .  Aku hanya terfokus oleh apa yang aku lihat.  Itupun tak dapat kupercayai.  Entah, berapa banyak aku melangkah dari posisiku semula.  Tapi, aku kembali terhenti dan mematung.  Keadaan itu seolah pertemuan antara dunia mimpi dan nyata.  Aku sulit membedakan.
Dalam keadaan setengah mimpi itu, sosok itu seolah mengetahui keberadaanku.  Dia terdiam,  melihatku dari jauh, di depan tiang listrik itu.  Begitu lama.
Dia bergerak satu langkah dengan langkah kaki yang berat.  Kemudian terhenti, terdiam.  Seolah ada komunikasi magis diantara aku dan dia.
Tik-tok tik-tok tik-tok.
Tak lama, aku mulai merasakan adanya langkah-langkah ringan menuju posisiku.  Entahlah, berapa lama.  Kemudian aku melihatnya tepat di hadapanku.
Pipiku basah.
Ternyata sosok itu benar-benar kamu Lukas.  Postur tubuhmu, wajahmu, atribut pakaianmu, dan aroma parfummu.  Itu sudah cukup mendefinisikan jika itu kamu.
Aku mematung, kamu mematung.  Kita yang lain sama-sama mematung.  Terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kita.  Tidak ada yang bergidik diantara aku dan kamu.  Tapi, komunikasi magis itu seolah membayangi pikiran kita masing-masing.
Pikiranku berkelana kemana-mana.  Dan aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu waktu itu.  aku sedang tidak ingin menebak apa yang kamu pikirkan.  Karena aku memang tak mau.

Aku tahu, kita memang sudah putus empat hari yang lalu.  Tapi seperti inikah caramu?  Memberikan kita yang lain dengan lebih sakit.
Oh, tidak.  Ternyata yang aku lihat salah.  Lebih sakit lagi memang.  Ternyata dia bukan sosok perempuan.  Sosok yang bersandar pada tiang lampu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar