Yogyakarta, Juli 2014.
“Pukul, pukul, ayo pukul!”
“…”
“Pukul aku! Ya!
Pukul aku! Tampar!!!” Teriak wanita itu pada lelakinya.
Memuakkan.
***
Malam itu, setelah aku memesan menu Spicy Tuna Baked Rice dan Fresh
Apple Lasy di sebuah kafe masakan barat.
Aku sedikit membungkuk, mengambil
sebuah kantong biru berisi kotak kado di samping kursiku.
Lukas, matamu yang kecoklatan, dan
terlihat tajam saat kau menatapku. Itu
memberiku sinyal, untuk terus mencintaimu.
Kenyataannya, aku tidak bisa lepas dari semua itu. Bibirmu yang manis, dan selalu tersenyum
kepada setiap orang. Itu membuatku
mengerti, betapa kamu peduli kepada mereka.
Sikapmu yang ramah tanpa memandang rendah kepada siapapun. Rambut hitammu yang sedikit bergelombang dan
hampir menutupi telingamu itu, membuatmu jauh lebih keren dan manis di
mataku. Aku tidak bisa menolak semua
kenyataan itu, Lukas.
Selama enam bulan, aku dan kamu
menjadi kita. Di sana tidak ada
kehidupan antara aku dan kamu. Tapi
melebur menjadi kita. Menyatukan dua
kehidupan menjadi satu yang jauh lebih berwarna.
Tahukah engkau Lukas, sosok yang
tenggelam dalam hatiku? Jika waktu itu
aku hanya memiliki sebuah kuas dengan warna hijau untuk melukis keindahan. Maka, saat itu pula aku hanya mampu melukis
tangkai, daun, atau sekedar bentangan padang rumput yang hijau. Tak ada menariknya.
Buruk sekali bukan? Tapi, setelah kamu datang menghampiriku
membawa kuas dengan cat warna merahmu, semua berubah. Kamu menyempurnakan goresan itu hingga terbentuk
sebuah lukisan yang penuh arti. Dengan
kelincahan tangan kita memainkan kuas masing-masing dalam sebuah kanvas, pada
saatnya, terbentuklah lukisan yang sangat cantik, indah, dan begitu sempurna. Bermula dari dua umat manusia, dua hati, dua
kepribadian, dua tangan, dan dua sifat pada goresan kuas. Pada akhirnya bertemu dalam satu impian di
atas kanvas. Setangkai mawar merah milik
kita. Lukisan yang sangat indah ya, Lukas? Ya, kamu menyempurnakan lukisanku, Lukas.
Kamu hebat.
“Bukan aku, atau kamu. Tidak ada aku, dan kamu disini. Tapi kita.
Kita hebat,” katamu waktu itu sambil menanggalkan senyum dalam jiwaku.
Tidak hanya itu, Lukas. Kau telah banyak melukiskan dan memberikan
warna dengan kuasmu tidak hanya di kanvasku, tapi dalam kehidupanku. Itu adalah lukisan nyata yang akan selalu
kukenang sepanjang usiaku. Mengubah
hidupku yang monoton menjadi lebih kontras.
“Kita akan selalu memiliki seni
yang indah untuk saling menyempurnakan kehidupan pasangan kita. Tahu
kenapa? Agar kita mendekati kesempurnaan
cinta. Menjadi sepasang kekasih yang
indah. Cinta sangat butuh seni, agar
tidak ada rasa jenuh. Karena aku tak
ingin kita seperti itu.” Katamu dulu.
Mengingat kejadian-kejadian kemarin
membuatku semakin rindu kepadamu, Lukas.
Ya, malam ini aku ingin segera menjumpaimu, memelukmu, dan merasakan
ketenangan dalam jiwaku. Tepatnya, pada
usiamu yang genap dua puluh empat tahun.
Betapa indahnya kenangan kita selama ini.
Aku selalu mengingatmu,
mengingatmu, dan terus meingingatmu. Di sini, di sana, di manapun berada. Kemarin, saat ini, bahkan lusa, aku sudah
mengingatmu. Kepastian yang jelas
bagiku.
Tik-tok tik-tok tik-tok…
Waitress itu tersenyum sembari
meletakkan menu di mejaku. Aku balik
tersenyum kepadanya. Pikiran ini masih
terbayang akan ingatan tentang kita.
Mungkin itu yang membuat moodku lebih baik dan memperlakukan waitress dengan sopan.
“Terimakasih.” Kalimatku.
Waitress itu balik mengangguk.
Tahukah engkau, Lukas? Selepas aku keluar dari kafe ini, aku akan
segera ke rumahmu. Menemuimu. Memberikan ucapan dan doa di ulangtahunmu
lengkap dengan rainbow cake kesukaanmu.
Menurutmu, rainbow adalah cake yang penuh dengan emosi kebahagiaan. Warnanya yang tegas seperti pelangi
memberikan kesan akan keceriaan dan banyaknya warna kehidupan. Maka dari itu, kau lebih suka dengan cake
yang satu ini. Menyemangati kehidupanmu.
Ya, kamu orangnya seperti penenun, Lukas. Menenun setiap kata yang sederhana menjadi
magis dalam serapanku. Kalimatmu selalu
mengalir indah dalam pikiranku untuk kumaknai.
Lalu jatuh pada perasaanku.
“Coba, aku ingin kita memaknai dari
sisi indera penglihatan. Tahu kenapa,
karena informasi pertama kali bermula dari apa yang kita lihat. Brownies itu memang lebih manis. Tapi, lihatlah warnanya yang selalu
coklat. Warnanya dominan. Itu monoton.
Bagaimana jika kehidupan selalu didesain monoton seperti itu? Kurasa mereka akan bosan. Seperti hidup yang
hanya didesain dengan satu emosi saja, atau hal monoton lainnya. Mereka akan bosan dan stress.”
Aku tak merespon.
“Lain dengan rainbow cake. Lihatlah, dia penuh warna. Kurasa, manusia tidak akan bosan dengan
kehidupan yang lebih bervariasi. Mereka
akan jauh lebih bisa memaknai dan memahami kehidupan dengan banyaknya variasi
dan kondisi yang berbeda. Kita tidak
akan hidup lebih baik hanya dengan satu rasa bukan?” Katamu waktu itu. Kata-kata itu terlalu indah kau ucapkan.
***
Setelah keluar dari kafe
Perjalanan yang cukup
mendebarkan. Sebelumnya aku memang
sengaja tidak memberi tahu kalau aku akan ke rumahmu. Tapi aku sangat yakin kalau kamu di rumah. Setelah beberapa waktu tadi, kita yang lain
saling bertukar info lewat whatshap.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh
menit perjalanan dari kafe itu ke rumahmu.
Dan itu memicu adrenalinku.
Menjadi semakin cepat.
Motorku mulai memasuki Gang
Kembang, Jantungku berdegub semakin
kencang. Tidak ada siapapun di sana,
malam begitu sepi. Dinginnya angin
sedikit memburu. Aku membelokkan motorku
ke kanan. Aku berhenti mendadak. Rumah deret ketiga dengan gerbang warna biru
adalah rumahmu. Aku terdiam. Aku ingin membuat kejutan untukmu, Lukas.
Dengan keputusan yang kubuat secara
mendadak, aku memarkirkan motor di tepi lahan kosong dekat pos ronda. Di sana, aku mulai menghias rainbow cake
kesukaanmu dengan lilin kecil yang berwarna-warni. Bagimu, lilin-lilin kecil yang banyak jauh
lebih baik karena mereka bersama-bersama untuk membentuk sebuah kekuatan cahaya
menjadi satu yang lebih terang.
“Novia, tahu kenapa? Aku lebih suka memberikan lilin-lilin kecil
ini di kue ulangtahunmu daripada dua lilin dengan angka umurmu yang
sekarang. Itu karena mereka jauh
memiliki kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan akan cahaya terangnya. Mereka bisa menyinari setiap sisi kue
ini. Walaupun mereka tidak terlalu
terang, tapi kebersamaan itu jauh lebih penting dalam mencapai tujuannya.”
“…”
“Seperti kamu. Kamu baru akan bisa mencapai tujuanmu ketika
bersama orang-orang di sampingmu, orang yang menyayangimu, orang yang saling
merangkulmu. Maka, capailah mimpi di
usiamu ini bersama mereka. Jangan pernah
meninggalkan mereka.”
Aku terharu mendengar dan mengingat
kalimatmu itu. kalimat itu kudapati di ulang tahunku empat bulan lalu.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh
suara pintu gerbang yang tersentuh tangan manusia. Suara roda pada gerbang yang bergesek dengan
lintasannya terdengar cukup jelas.
Jantungku mulai berdegub lebih kencang.
Mungkinkah itu engkau Lukas, orang yang terus kucintai? Engkaukah yang menggeser dan membukakan
gerbang itu, hingga membuat badanku gemetar dan lemas?
Sebagian badannya yang
membelakangiku masih terhalang tembok. Itu
membuatku masih menduga-duga dan belum begitu yakin. Dan aku kira, sepertinya dia adalah kamu, Lukas. Dari postur tubuhnya, sepertinya kamu. Dan setelah dia keluar dari gerbang
itu,ternyata dia adalah kamu Lukas.
Buruk bukan, aku memanggilmu
dia. Bukan bagian dari kita, atau kamu.
Aku berbalik badan, berharap kau
tidak melihatku. Aku semakin gemetar
dengan rainbow cake di tanganku. Waktu
begitu cepat. Aku mulai cemas. Detak jantungku terdengar begitu jelas. Aku berada di balik motor dan bersembunyi di
dekat pohon pisang. Untuk memastikan kau
tak melihatku, aku sesekali menengok ke arahmu.
Dan pada suatu tolehanku, aku menemukan sebuah kejadian.
Atmosfer yang berbeda.
Benarkah atmosfer telah berubah?
Di bawah sinar lampu, kau mencium
seorang wanita cantik yang tidak aku kenal.
Lukas? Mataku terbelalak tajam. Emosiku berubah. Aku menyadari ada lonjakan emosional. Aliran darah mengalir begitu cepat dalam
tubuhku, terutama kepalaku. Aku
merasakan ada perubahan suhu tubuhku yang naik.
Napasku semakin kuat.
Aku tak percaya. Pikiranku menolak atas apa yang aku lihat. Aku
terpaku, mematung, membisu. Badanku
semakin gemetar hebat.
Kulihat, kau mendekapnya, mencium
bibirnya, menghusap rambutnya. Begitu
lama. Sangat lama, Lukas. Pada perempuan yang bersandar di tiang
lampu. Perempuan anggun dengan rambut
hitam lekat. Menggunakan dress
bunga-bunga selutut. Sungguh bengis.
Itu tidak mungkin. TIDAK MUNGKIN LUKAS!
Siapa itu Lukas! Siapa?
Lukas, kamu… oh. Apa semua itu Lukas? Aku tidak percaya kalau itu kamu Lukas!
Aku berteriak dalam hati. Aku tak bisa berkata satu katapun melihat
kejadian ini. Sungguh, ini tidak
mungkin. Nafasku menjadi semakin tidak
beraturan. Aku lemas, aku benar-benar
tersentak melihat apa yang aku lihat secara langsung. Tidak mungkin kamu seperti itu. Bukan begitu, Lukas?
Aku benar-benar ingin berlari
menghampirimu biar aku puas jika itu bukan kamu Lukas. Mana mungkin kamu melakukan hal itu.
Kuatur gejolak jiwaku.
Aku tidak dapat memberikan definisi
dengan jelas keadaan disekitarku. Aku tidak
bisa teriak, marah. Aku tidak bisa semua
itu. Persendianku melemah.
Rainbow cake yang tadi kupegang,
aku tak memikirkannya . Aku hanya
terfokus oleh apa yang aku lihat. Itupun
tak dapat kupercayai. Entah, berapa
banyak aku melangkah dari posisiku semula.
Tapi, aku kembali terhenti dan mematung.
Keadaan itu seolah pertemuan antara dunia mimpi dan nyata. Aku sulit membedakan.
Dalam keadaan setengah mimpi itu,
sosok itu seolah mengetahui keberadaanku.
Dia terdiam, melihatku dari jauh,
di depan tiang listrik itu. Begitu lama.
Dia bergerak satu langkah dengan
langkah kaki yang berat. Kemudian
terhenti, terdiam. Seolah ada komunikasi
magis diantara aku dan dia.
Tik-tok tik-tok tik-tok.
Tak lama, aku mulai merasakan
adanya langkah-langkah ringan menuju posisiku.
Entahlah, berapa lama. Kemudian
aku melihatnya tepat di hadapanku.
Pipiku basah.
Ternyata sosok itu benar-benar kamu
Lukas. Postur tubuhmu, wajahmu, atribut
pakaianmu, dan aroma parfummu. Itu sudah
cukup mendefinisikan jika itu kamu.
Aku mematung, kamu mematung. Kita yang lain sama-sama mematung. Terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar
dari mulut kita. Tidak ada yang bergidik
diantara aku dan kamu. Tapi, komunikasi
magis itu seolah membayangi pikiran kita masing-masing.
Pikiranku berkelana
kemana-mana. Dan aku tak tahu apa yang
ada dalam pikiranmu waktu itu. aku
sedang tidak ingin menebak apa yang kamu pikirkan. Karena aku memang tak mau.
Aku tahu, kita memang sudah putus
empat hari yang lalu. Tapi seperti
inikah caramu? Memberikan kita yang lain
dengan lebih sakit.
Oh, tidak. Ternyata yang aku lihat salah. Lebih sakit lagi memang. Ternyata dia bukan sosok perempuan. Sosok yang bersandar pada tiang lampu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar