Minggu, 21 Agustus 2016

Secangkir Mata Perempuan



Secangkir Mata Perempuan


Perempuan itu melepas bola matanya dari kelopaknya dengan begitu tenang dan hati-hati.  Lalu diletakannya ke dalam cangkir yang masih kosong.
“Lihat, bukankah buih kopi di sini menyerupai biji mata saya?”
Benar-benar sinting.  Saya tak benar-benar percaya.  Tapi, begitulah yang orang lihat dari perempuan itu.  Sebuah tontonan baru di kota ini.
Pada malam hari saat senja menunduk dan memilih pulang, perempuan itu berada di sebuah kedai kopi yang terletak tidak begitu jauh dari stasiun Lempuyangan.  Memesan secangkir kopi hitam dan segelas air putih.
***
Saya berhenti di Stasiun Lempuyangan bersama seorang teman dari Jakarta.  Rencananya, kami akan menemui seorang teman lama yang memilih menetap di Yogya setelah menyelesaikan studinya di sana.  Nyatanya, cerita perempuan itu sedikit lebih mengganggu daripada rasa rindu saya kepada seorang teman.
“Lihat saja ke sana, Mas.  Biar nggak penasaran.”  Begitu suara serak dari ibu-ibu dengan penuh lemak di beberapa bagian tubuhnya sembari merapikan dagangan.
Betapa kedai kopi itu cukup ramai sekali di bawah bulan yang menggantung tidak begitu sempurna.  Lampu jalan yang mematung dan memilih diam.  Tidak ingin berkomentar.  Udara yang setia menciumi malam.  Rutinitas-rutinitas malam yang disaput kabut yang lembab.
Saya membayangkan dari jauh.  Bagaimana perempuan itu mencuci kedua matanya dengan air putih seperti kebanyakan yang orang bilang tanpa peduli orang lain yang bisu dan menelan ludah.  Entah rasa jijik, atau tak percaya.  Atau, “sinting!”  kata yang sama persis dengan kepunyaan saya.  Semua perasaan itu tercampur dalam kepalanya masing-masing.
Saya ikut menelan ludah, memperbaiki letak ransel saya yang mulai melorot ke lengan.
“Nggak usah.  Kamu nggak suka itu.”  Cegah teman saya ketika melihat kaki saya yang mulai bergerak menuju kedai kopi.
“Ini langka.”  Jawab saya.
Teman saya tetap mempertahankan genggamannya.  Genggamannya cukup kuat.  Namun tidak membuat lengan saya sakit.  Tapi, saya yakin, lengan saya akan sukses merah karena cengkramannya.
“Kita ke tempat Ken.”
Saya menarik napas.  Menghusap kening yang tidak dingin.
“Tapi setelah semua selesai kita bisa ke sini?”
Itu ucapan terakhir saya di sekitar stasiun sebelum teman saya akhirnya bersepakat untuk mengangguk dengan keraguan.  Itu saja.
***
Saya menyeruput secangkir teh pada sebuah gerimis di sore hari.  Di kontrakan Ken.  Tentu saja.
Seorang pria yang sekitar tiga tahun lalu baru mendapat gelar sarjana Ekonomi, mana mungkin bisa mengangsur perumahan di Yogyakarta.  Kamu bayangkan, hidup di kota Yogyakarta yang, uhm... segala apapun makin merangkak naik.  Sementara gaji hanya segitu saja dengan pergerakan yang cukup lamban.  Bisa mempunyai rumah mungil status milik sendiri pun senangnya bukan main.
“Kau tak mencari kopi di luar?”
“Gerimis.”
Ken tak menimpali.  Dirinya tahu, saya termasuk pria yang cukup suka dengan kopi—dulu.  Semasa kuliah, jika ada waktu kami selalu berburu kedai kopi di kota ini.  Gayo Aceh.  Kami ingat itu.  Mencari tempat terenak dan ternyaman dalam menengguk kopi.  Mencari udara gerimis yang pantas dihirup hampir tengah malam.  Tidak semua tempat.  Hanya beberapa tempat menurut rekomendasi kawan.  Dan kami merasakan tubuh kami menjadi lebih ringan dan makin ringan tanpa mengurangi berat badan.  Dan masalah-masalah yang kami tampung menjadi ringan.  Keluar dari kepalanya masing-masing.
Hanya saja... ya, hanya saja.  Semenjak ayah saya merasakan banyak semut yang mengerubungi jantungnya setelah minum kopi Gayo, saya tidak begitu tertarik dengan kopi itu (semua kopi, bahkan).  Ayah saya di salah satu malamnya merasakan banyak semut menggigit jantungnya dengan tiba-tiba.  Begitu tiba-tiba dan menyakitkan.  Dan paginya, mereka mengirimi kami karangan bunga di depan rumah.
Tidak, ini bukan lelucon.  Dan mendadak, semua jenis kopi bagi saya membuat saya sulit bernapas.
“Kau tak merekam hujan?”  tanyanya.
Kamu tahu, banyak perihal yang suka saya rekam dengan lensa kamera saya.  Semua hal.  Semisal, perasaan gelisah dan kepedihan.  Seperti, embun yang ragu-ragu tumpah ke atas tanah.  Atau senja-senja yang bersembunyi di sudut kota.  Saya sering mencarinya untuk merekamnya.  Kadang bersama teman, lebih seringnya sendirian.
“Kau mendengar tentang perempuan yang melepaskan bola matanya?”
Saya menelan ludah.  Mengamati butiran hujan yang mengendap di jendela.  Ada yang tersangkut di kerongkongan saya.  Ada gelisah dalam pori-pori yang kedinginan.
“Sudah sampai ke ibukota.”  Jawab saya.
Ken hanya menepuk bahu dan tersenyum.  Menggantungkan tanda tanya di ruangan yang remang.
“Kau bisa merekamnya.  Pasti akan melebihi bualan masalah pemerintahan.”
***
“Tidak usah.  Tidak usah.”  Teman saya lagi-lagi menarik saya.
“Saya harus rekam.”
“Aku takut, Ben.  Bukankah Ken sudah bercerita panjang lebar.”  Matanya pekat menahan takut.  “Sudah, Ben.  Bukankah kamu sekarang benci kopi?”
Saya mematung.  Tidak ada gerimis petang itu.  Tapi kabut tipis berlarian di pinggir jalan raya.  Saya bisa menangkapnya.  Kabut-kabut itu... bukannya berlari meninggalkan bangunan dua lantai itu.  Tapi justru mengerumuninya.  Makin mendekat, makin tiada sekat.
Rupanya, kabut-kabut itu tahu, mana tontonan yang pantas dilihatnya pada petang yang berubah malam.
“Apa kamu tidak penasaran?  Bagaimana jika perempuan itu tiba-tiba tidak bisa mengembalikan bola matanya ke lubang mata?  Apa kamu tidak ingin lihat itu?”
Teman saya diam.
“Apa kamu tidak ingin melihat, bagaimana jika bola matanya yang menyerupai kopi itu tertinggal di cangkir—membusuk dan dikerubungi semut hingga habis.  Dan tamatlah pertunjukan itu bersama perempuan butanya.”
Teman saya hanya mematung sembari memengang pergelangan tangan saya dengan gelisah.  Tidak ada kata yang dia ucap.
“Ayo.”
“Apa kamu akan melindungiku?”
Saya hanya mengangguk.
***
Saya melihat kerumunan orang yang mematung.  Sebagian bersembunyi di balik bahu kekasih, sebagian memelototkan matanya.  Sisanya, menelan ludah dengan pikirannya masing-masing.  Di sudut ruangan, saya melihat perempuan dengan mini dress berwarna putih duduk di sebuah kursi.
“Apa kalian ingin melihat bola mata saya yang mencair menjadi kopi?”  tanyanya lagi.
Tidak ada yang menjawab.  Semuanya diam.
Saya melihat wajahnya yang begitu lusuh di ruangan.  Sementara, teman saya bersembunyi di belakang saya.
Tidak lama dari itu, perempuan itu mempertunjukkan sesuatu.  Seperti yang orang bicarakan kepada saya.
Benar saja.
Dengan begitu pelan, perempuan itu menghusap kedua matanya dengan tisu basah (ya, sepertinya tisu basah).  Dia menghusapnya, sementara bibirnya terlihat datar saja berwarna darah.
“Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini lagi.”
Begitu pelan-pelan, perempuan itu membuka kelopak matanya.  Sementara tangan kanannya sudah siap dengan sendok makannya.  Tak lama, sendok itu bekerja dengan mencongkel mata sebelah kanannya.  Ada yang basah, mengalir di tebing pipinya berwarna coklat.
“Seharusnya bisa dibicarakan baik-baik.”  Ucapnya lagi.
Kali ini, yang basah berwarna merah.
Sendok dan tangan-tangan itu terus bekerja dengan sedikit susah payahnya.  Tidak mempedulikan orang lain yang memandang.
Saya melihat sebagian orang yang ada di dalam ruangan berhambur keluar.  Dengan pipi yang mengembung, wajah yang hitam kebiruan.  Mual dan... muntah, mungkin.  Ada yang menangis dan tersungkur ke lantai.  Ada yang diseret ke belakang karena hendak pingsan. Bahkan yang sudah pingsan.  Yang lain masih mematung di ruangan.
“Seharusnya bisa melihat aku baik-baik.”
Di ruangan itu, hanya beberapa orang yang bertahan.  Sebagian memalingkan wajah merasa jijik, yang lain ikut keluar menundukkan kepala.
Sesaat, matanya sudah keluar dan dituangakan ke dalam cangkir putih yang tadinya kosong.  Begitu saja.  Lalu perempuan itu kembali menghusap kelopak matanya yang kosong menggunakan tisu basah.
“Lihat, bukankah buih kopi di sini menyerupai biji mata saya?”
Semua terdiam.
Beberapa orang lagi ikut keluar ruangan.  Mungkin tidak tahan.  Ada yang bergidik jijik.
***
Saya menikmati secangkir teh di ruangan Ken, menghadap jendela.  Kali ini tidak gerimis.  Hanya lembab yang tipis.
“Tidak mencari kopi?  Gerimis sudah berhenti, Ben.  Seharusnya kau bisa mencari kopi.”
Kepala saya masih diisi perempuan itu.  Bukan kopi.  Tapi perempuan dan bola matanya yang mencair menjadi secangkir kopi.  Bukan kopi yang lain.  Hanya kopi dari bola mata perempuan itu.  Waktu lalu, saya berusaha mendekatinya.  Lebih dekat, tapi tidak sempat merekam dengan kamera saya.
“Jika ini kopi, apa bisa diminum?”
“Kamu ingin minum kopi apa?”  tanya perempuan itu.
Saya tak langsung menjawab.  Ruangan menjadi bisu dengan sedikit mendung di mana-mana.  Saya hanya mengingat ayah.  Ayah yang merasakan jantungnya digigit ribuan semut setelah menengguk kopi Gayo.
“Ayah meninggal setelah minum Gayo.”
Perempuan itu tertawa sedikit menyeringai.  Lalu mendadak terdiam.
“Kopi tak membuat seseorang mati, Ben.”
Tanda tanya menggantung parah di kepala saya.  Saya melirik ke beberapa pakaian yang saya kenakan.  Tidak ada atribut di sana.
***
“Kau yakin tidak minum kopi, Ben?”  tanya Ken sekali lagi.
“Belum bisa.”
“Perempuan itu sinting ya.  Lebih sinting dari harga perumahan.  Juga lebih sinting dari sistem pemerintahan.”  Ken mengakui.
Saya hanya diam.  Membiarkan mata saya mengamati pohon-pohon gagah yang hitam gelap di luar jendela.  Cerita perempuan dan matanya yang mencair itu masih meminta kepala saya untuk memikirkannya.
“Apa yang ada di kepalamu, Ben?  Bukankah kau ke sini untuk memastikan jika sahabatmu ini baik-baik saja setelah banyak menengguk kopi?”
Saya tak menimpali.  Perempuan itu masih tajam di mata saya, di kepala saya, di jantung saya.  Bahkan di jendela, saya melihat perempuan itu tertawa.  Tepat di hadapan saya.
“Perempuan itu sudah mati, Ben.  Menengguk air matanya sendiri.  Tengah malam tadi, dia merasakan banyak semut menggigiti jantungnya sendiri.”
Saya tak bisa berkata apa-apa.


Yogyakarta, 20 Agustus 2016
Wanda SP


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar