Saat kamu membaca surat ini, mungkin kita sudah tidak bersama lagi menjadi kita. Kita telah menjadi kitanya masing-masing. Kitanya aku dan kitanya kamu.
Sebenarnya, surat ini sudah aku tulis lima belas tahun yang akan datang. Di mana seperti yang aku katakan tadi, kita sudah tidak bersama. Maka, aku kirim surat ini lima belas tahun yang lalu dari lima belas tahun yang akan datang.
Jangan kau kaget seperti itu menemui tulisan ini. Tepat di mana masa telah beranjak lima belas tahun dari ini.
Aku melihat, tepat lima belas tahun dari sini kau telah bermain dengan perempuan lain yang telah menjadi pendampingmu. Itu tidak masalah bagiku. Kupikir, aku pun seperti itu. Bersama lelaki lain. Lelaki yang tidak pernah aku cintai. Lelaki yang telah menikahiku walau sejujurnya aku tak akan mau.
Aku hanya mengingatkanmu, setelah berbelas-belas tahun dari masa depan ini. Di sebuah sudut kamarku di Jogja, masih terpajang lukisan senja yang pernah kita lukis bersama. Aku selalu menengoknya di pagi hari. Melihat lukisan senja yang terpapar dan memantulkan sinar fajar.
Lucu sekali, sang fajar bisa bertatap muka dengan senja. Sesungguhnya fajar takkan pernah bisa bertemu dengan senja. Mereka tak bisa bertatap muka, bersama, ah... apalagi menyatu. Saat fajar datang, senja tidak ada di tempatnya. Dan saat senja nampak, fajar telah pergi dari tempat itu. Begitu seterusnya. Dan itu takkan pernah berubah.
Tapi kita... kita mampu membantu fajar mempertemukannya dengan kekasihnya. Senja. kita telah menolong mempertemukan mereka yang haus akan rindu. Sepasang kekasih yang sejatinya tidak bisa bertemu.
Ah... Sudahlah, aku tidak ingin membahas itu dalam suratku ini. Aku hanya ingin meminta, tengoklah lukisan itu, Mahesa. Lukisan yang telah mempertemukan perasaan kita saat itu. Jangan kau museumkan begitu saja dalam hatimu.
Mahesa, perlu kau ketahui, betapa perasaanku lima belas tahun yang lalu mengenai semua ini. Saat kamu telah meminang wanitamu itu.
Dengan surat ini, sebenarnya aku hanya ini meminta maaf kepadamu. Memang, surat ini tak sempurna. Karena lima belas tahun yang akan datang, aku sudah mulai renta. Otakku renta, jari-jariku mulai renta juga. Bahasaku juga. Tapi, setidaknya aku bisa meninggalkanmu dengan lega setelah menulis tulisan ini.
Mahesa, perlu kau ketahui. Aku menulis beberapa draf maafku untukmu. Dan kau perlu tahu itu.
1. Mahesa, maafkan aku. Aku terlalu egois untuk mengatakan cinta kepadamu. Saat kamu mencintaiku, aku selalu bungkam dan kadang berucap tidak.
2. Mahesa, aku juga minta maaf, terlebih orangtuaku yang tak pernah menyetujui hubungan kita. Karena perbedaan Tuhan dan kasta di antara kita.
3. Mahesa aku juga minta maaf. Aku tidak bisa melupakanmu sampai saat ini. Saat kita sudah bersama kitanya masing-masing. Kita telah bersama buah hati kita masing-masing.
4. Mahesa, aku juga minta maaf, sampai saat ini aku masih mencintaimu. Mencintai suami orang lain.
5. Mahesa, maafkan pengorbananku yang sia-sia. Aku selalu berusaha keras untuk menjadi pengusaha yang nantinya bisa kita kembangkan bersama. Tanpa kau ketahui itu. Agar orangtuaku kelak, mau merestui kita.
6. Mahesa, aku juga minta maaf jika ini adalah kalimat pertama dan terakhirku jika sesungguhnya, aku sangat mencintaimu.
7. Dan yang terakhir, Mahesa, aku juga minta maaf. Jika surat ini tak pernah sampai kepadamu.
3. Mahesa aku juga minta maaf. Aku tidak bisa melupakanmu sampai saat ini. Saat kita sudah bersama kitanya masing-masing. Kita telah bersama buah hati kita masing-masing.
4. Mahesa, aku juga minta maaf, sampai saat ini aku masih mencintaimu. Mencintai suami orang lain.
5. Mahesa, maafkan pengorbananku yang sia-sia. Aku selalu berusaha keras untuk menjadi pengusaha yang nantinya bisa kita kembangkan bersama. Tanpa kau ketahui itu. Agar orangtuaku kelak, mau merestui kita.
6. Mahesa, aku juga minta maaf jika ini adalah kalimat pertama dan terakhirku jika sesungguhnya, aku sangat mencintaimu.
7. Dan yang terakhir, Mahesa, aku juga minta maaf. Jika surat ini tak pernah sampai kepadamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar