Rabu, 06 Agustus 2014

Preman #1

Aku menarik nafas panjang setelah membayar beberapa minuman bersoda yang aku bawa.  Lalu mulai membukakan pintu yang berat itu dan segera menjejakkan kakiku ke luar.  Beruntung, gerimis tak lagi turun setelah tadi sore sempat membasahi sudut Jogja.  Mungkin, mereka sudahi sore itu juga.

Hampir jam duabelas malam, begitulah yang aku cerna dari jam tangan digitalku.  Lebih tepatnya, jam sebelas empat puluh lima menit.  Tak butuh berpikir lama, langsung saja ku hampiri motor bebekku yang sudah haus untuk kunaiki.  Ah, motor ini sudah tua.  Seharusnya sudah pensiun untuk mengantarkanku kuliah dan bekerja.  Motor Supra X abu-abu keluaran tahun 2000 itu terlihat renta dan... tentunya dekil.  Tapi, tak apalah.  Biarkan dia menjadi saksi perjuanganku demi selembar ijazah sarjana.

Jalanan mulai sepi.  Hanya ada beberapa motor yang masih berlalu-lalang dengan gencar.  Bahkan lampu-lampu yang bertengger pada gedung-gedung besar mulai mati.  Hanya tersisa lampu penerang malam yang begitu redup.

Di depan Indomaret, lebih tepatnya pertigaan depan yang berjarak sepuluh meter dari sini kudapati beberapa pemuda yang selalu nongkrong di tempat itu setiap malam.  Aku tak begitu tahu tentang mereka, hanya saja aku sering mendengar banyak kericuhan di tempat itu.  Biasanya gara-gara perempuan.  Maklum kawula muda.  Tapi yang belum lama ini kudengar adalah adalah pengeroyokan jambret.

Karena aku perempuan yang harus pulang malam, kadang itu membuatku was-was juga.  Tapi, sudahlah.  Percaya Tuhan saja, Dia yang melindungiku.

Aku mulai mengendarai Supra yang serasa Inova itu.  Di langit timur kulihat rembulan seolah berlari menemaniku.  Menikmati jalanan yang mulai sepi bahkan tak kujumpai kendaraan di sisiku.  Hanya terlihat semburat lampu motor dari spion yang tertinggal jauh.

Tak jauh di depanku, Jalan Jogja-Solo segera menyambutku.

'Glek... glek... glek....'

Ah, sial.  Ada yang aneh.  Entah, kenapa suara itu keluar dari motorku.  Biasanya tak seperti ini.  Dan... mati.  Motorku mati begitu saja.  Brengsek!  Umpatku.
Aku tak tahu-menahu soal motor, kenapa ini harus ngadat?  Gemetar, bingung, panik.  Tentu saja hal ini menjangkau perasaanku.

Aku sesegera mungkin menepikan motorku.  Naasnya lagi, siapa yang akan menolongku malam ini?  Sepi?  Hei! Ini Jogja yang sekarang, lebih keras.

Aku mendengar motor yang terhenti.  Tepat di belakangku.  Lelaki dengan motor kawasaki putih.  Aku tak mengenalnya.  Pikiranku segera bereaksi cepat.

"Agung!"  Yah, Agung.  Dia pasti mau menolongku.  Teman kampusku ini.

"Tidak, dia terlalu jauh dari lokasi ini."  Sial.  Ah, siapa lelaki itu.  Berhenti di belakangku?

"Mogok Mbak?"  Tanyanya.

Dia mendekatiku.  Dia hanya mengenakan kaos putih pendek tanpa jaket dan helm.  Dengan penerangan yang cukup redup itu, aku masih mampu melihat adanya tatto besar di lengannya.  Menang tidak begitu jelas, tapi aku melihatnya.

"Iya Mas." jawabku.

Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatiku.  Tanganku pun juga sibuk menyentuh ponsel yang akhirnya aku jatuhkan pada nomer Dimas.  Temanku yang bekerja di Ambarukmo Plaza.

"Dimas!  Kau dimana?"  Telepon tersambung.

"Aku di Wonosari.  Kenapa?" Tanyanya.

"Ah, ya sudah."  Aku mematikannya kembali.

"Minyaknya ada Mbak?"  Ah, lelaki ini.

"Ada."  Jawabku.

"Coba saya periksa dulu .  Mbaknya turun dulu."

"Hei, apa-apaan ini!"  Kataku melihat dia menaiki motorku.

"Coba saya cek dulu."

Ah, aku tak tenang.  Bahkan ingin segera berteriak tadi.

Dia mulai menghidupkan motor bebekku itu.  Memancalnya lalu...

"Hei! Kau mencoba mengambil motorku ya!"

"..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar