Rabu, 06 Agustus 2014

Fiksi # Balkon Meja 16

Aku melihatnya, seorang lelaki yang membuatku ada rasa berbeda saat ini.  sedikit membenci, mungkin.  Dia duduk pada balkon meja 16.

Lelaki itu tampan, dengan model gaya rambut masa kini.  Potongan rambutnya lebih tipis di samping dan sedikit lebih lebat pada bagian tengahnya.  Hidungnya mancung, dengan tulang hidung tengah yang bengkok melengkung ke bawah.  Bentuk wajahnya diamond, kulitnya putih.  Terlihat kedua bola matanya sedang serius di antara halaman buku.

Aku mendekatinya dengan langkah yang sedikit canggung.  Lalu duduk di kursi depan yang masih kosong itu sehingga aku dan dia kini berhadapan.  Sepertinya dia sedikit kaget.  Dia menghentikan bacaan itu dan menutupnya.  Dia menatapku.  Akupun begitu, hingga melihat pantulan mataku dalam lensa matanya.  Dengan cepat aku menepiskan pandangan itu.

"Apa yang ingin kau katakan?" Tanyaku mendesak.

"Tak usah secepat itu.  Pesan dulu menumu." Katanya.

"Bukankah kau yang memintaku ke sini karena ada yang ingin kau katakan sebentar?"

Dia terdiam, menarik nafas yang panjang, melemparkan pandangannya ke taman beberapa saat.  Lalu menatapku kembali.

"Aku... Aku ingin kau segera memutuskan hubunganmu dengannya.  Dan setelah itu, kita menikah."  Katanya serius.

##

Aku gelagapan.  Untung saja aku tidak sedang meminum sesuatu.  Jika iya, mungkin akan keluar begitu saja dari mulutku yang tertutup ini.

"Kenapa kau memintaku seperti itu?" Tanyaku.

"Hei.  Bukankah hal ini seharusnya sudah tidak aneh lagi untuk kau dengar Va?  Bukankah kau juga mencintaiku?"


"Iya, tapi kau telah membuatku membencimu sekarang." Kataku.

"Membenci bagaimana?  seharusnya, aku yang seperti itu.  Kau telah membebaskan dia untuk mencintaimu.  Menjadi kekasihnya."

"..."

"Sedangkan, kau tak pernah mencintainya kan?  Kau hanya mencintaiku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar