Jumat, 22 Agustus 2014

Pengamen Tua dan Anak Kecil

Dia berkisah
Dengan derai di pelupuk mata
Dan nyawa di pangkuannya

Dia kini bersajak
Dengan hari, makin senja
Dan esok, nyawa yang berbeda

Tugu
Saksi bisu, tinggalkan beku
Aspal
Tilas tapal, liukkan terjal

Pada pagi, lagu-lagu berdendang
Pada siang, bulir peluh beranak
Pada sore, jerit raga berontak
Pada malam, ribu isak menggenang

Terik, tak hanya terik dicecap
Dingin, tak hanya dingin merasuk
Liar-liar dunia terekam

Tangis!
Nyawa itu bercerita....
Hanya tangis

Tangis!
Senja itu bersua....
Dengan tangis




Wanda Sp
Sleman, 22 Agustus 2014

Minggu, 10 Agustus 2014

Aku Ingin

Aku mencintaimu

Jika laut tak menyentuh pantai
Dan debur ombak tak mencium karang
Aku ingin melenyapkanmu

Aku mencintaimu

Jika fajar tak menatap senja
Dan sang terik menyekat rindu
Aku ingin melenyapkanmu

Aku mencintaimu

Jika camar tak lagi terbang
Dan berinduk pada ibu ayam
Aku ingin melenyapkanmu

Aku mencintaimu

Jika embun tak menyapa pagi
Dan pagi tak pernah ada
Aku ingin melenyapkanmu

Aku mencintaimu

Aku ingin, aku ingin, aku ingin
Dan aku ingin
Tetapi, aku ingin melenyapkanmu.



Minggu, 10 Agustus 2014
Wanda Sp (Wahyu Inda Syah Purwanti)

Rabu, 06 Agustus 2014

Preman #1

Aku menarik nafas panjang setelah membayar beberapa minuman bersoda yang aku bawa.  Lalu mulai membukakan pintu yang berat itu dan segera menjejakkan kakiku ke luar.  Beruntung, gerimis tak lagi turun setelah tadi sore sempat membasahi sudut Jogja.  Mungkin, mereka sudahi sore itu juga.

Hampir jam duabelas malam, begitulah yang aku cerna dari jam tangan digitalku.  Lebih tepatnya, jam sebelas empat puluh lima menit.  Tak butuh berpikir lama, langsung saja ku hampiri motor bebekku yang sudah haus untuk kunaiki.  Ah, motor ini sudah tua.  Seharusnya sudah pensiun untuk mengantarkanku kuliah dan bekerja.  Motor Supra X abu-abu keluaran tahun 2000 itu terlihat renta dan... tentunya dekil.  Tapi, tak apalah.  Biarkan dia menjadi saksi perjuanganku demi selembar ijazah sarjana.

Jalanan mulai sepi.  Hanya ada beberapa motor yang masih berlalu-lalang dengan gencar.  Bahkan lampu-lampu yang bertengger pada gedung-gedung besar mulai mati.  Hanya tersisa lampu penerang malam yang begitu redup.

Di depan Indomaret, lebih tepatnya pertigaan depan yang berjarak sepuluh meter dari sini kudapati beberapa pemuda yang selalu nongkrong di tempat itu setiap malam.  Aku tak begitu tahu tentang mereka, hanya saja aku sering mendengar banyak kericuhan di tempat itu.  Biasanya gara-gara perempuan.  Maklum kawula muda.  Tapi yang belum lama ini kudengar adalah adalah pengeroyokan jambret.

Karena aku perempuan yang harus pulang malam, kadang itu membuatku was-was juga.  Tapi, sudahlah.  Percaya Tuhan saja, Dia yang melindungiku.

Aku mulai mengendarai Supra yang serasa Inova itu.  Di langit timur kulihat rembulan seolah berlari menemaniku.  Menikmati jalanan yang mulai sepi bahkan tak kujumpai kendaraan di sisiku.  Hanya terlihat semburat lampu motor dari spion yang tertinggal jauh.

Tak jauh di depanku, Jalan Jogja-Solo segera menyambutku.

'Glek... glek... glek....'

Ah, sial.  Ada yang aneh.  Entah, kenapa suara itu keluar dari motorku.  Biasanya tak seperti ini.  Dan... mati.  Motorku mati begitu saja.  Brengsek!  Umpatku.
Aku tak tahu-menahu soal motor, kenapa ini harus ngadat?  Gemetar, bingung, panik.  Tentu saja hal ini menjangkau perasaanku.

Aku sesegera mungkin menepikan motorku.  Naasnya lagi, siapa yang akan menolongku malam ini?  Sepi?  Hei! Ini Jogja yang sekarang, lebih keras.

Aku mendengar motor yang terhenti.  Tepat di belakangku.  Lelaki dengan motor kawasaki putih.  Aku tak mengenalnya.  Pikiranku segera bereaksi cepat.

"Agung!"  Yah, Agung.  Dia pasti mau menolongku.  Teman kampusku ini.

"Tidak, dia terlalu jauh dari lokasi ini."  Sial.  Ah, siapa lelaki itu.  Berhenti di belakangku?

"Mogok Mbak?"  Tanyanya.

Dia mendekatiku.  Dia hanya mengenakan kaos putih pendek tanpa jaket dan helm.  Dengan penerangan yang cukup redup itu, aku masih mampu melihat adanya tatto besar di lengannya.  Menang tidak begitu jelas, tapi aku melihatnya.

"Iya Mas." jawabku.

Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatiku.  Tanganku pun juga sibuk menyentuh ponsel yang akhirnya aku jatuhkan pada nomer Dimas.  Temanku yang bekerja di Ambarukmo Plaza.

"Dimas!  Kau dimana?"  Telepon tersambung.

"Aku di Wonosari.  Kenapa?" Tanyanya.

"Ah, ya sudah."  Aku mematikannya kembali.

"Minyaknya ada Mbak?"  Ah, lelaki ini.

"Ada."  Jawabku.

"Coba saya periksa dulu .  Mbaknya turun dulu."

"Hei, apa-apaan ini!"  Kataku melihat dia menaiki motorku.

"Coba saya cek dulu."

Ah, aku tak tenang.  Bahkan ingin segera berteriak tadi.

Dia mulai menghidupkan motor bebekku itu.  Memancalnya lalu...

"Hei! Kau mencoba mengambil motorku ya!"

"..."

Fiksi # Balkon Meja 16

Aku melihatnya, seorang lelaki yang membuatku ada rasa berbeda saat ini.  sedikit membenci, mungkin.  Dia duduk pada balkon meja 16.

Lelaki itu tampan, dengan model gaya rambut masa kini.  Potongan rambutnya lebih tipis di samping dan sedikit lebih lebat pada bagian tengahnya.  Hidungnya mancung, dengan tulang hidung tengah yang bengkok melengkung ke bawah.  Bentuk wajahnya diamond, kulitnya putih.  Terlihat kedua bola matanya sedang serius di antara halaman buku.

Aku mendekatinya dengan langkah yang sedikit canggung.  Lalu duduk di kursi depan yang masih kosong itu sehingga aku dan dia kini berhadapan.  Sepertinya dia sedikit kaget.  Dia menghentikan bacaan itu dan menutupnya.  Dia menatapku.  Akupun begitu, hingga melihat pantulan mataku dalam lensa matanya.  Dengan cepat aku menepiskan pandangan itu.

"Apa yang ingin kau katakan?" Tanyaku mendesak.

"Tak usah secepat itu.  Pesan dulu menumu." Katanya.

"Bukankah kau yang memintaku ke sini karena ada yang ingin kau katakan sebentar?"

Dia terdiam, menarik nafas yang panjang, melemparkan pandangannya ke taman beberapa saat.  Lalu menatapku kembali.

"Aku... Aku ingin kau segera memutuskan hubunganmu dengannya.  Dan setelah itu, kita menikah."  Katanya serius.

##

Aku gelagapan.  Untung saja aku tidak sedang meminum sesuatu.  Jika iya, mungkin akan keluar begitu saja dari mulutku yang tertutup ini.

"Kenapa kau memintaku seperti itu?" Tanyaku.

"Hei.  Bukankah hal ini seharusnya sudah tidak aneh lagi untuk kau dengar Va?  Bukankah kau juga mencintaiku?"


"Iya, tapi kau telah membuatku membencimu sekarang." Kataku.

"Membenci bagaimana?  seharusnya, aku yang seperti itu.  Kau telah membebaskan dia untuk mencintaimu.  Menjadi kekasihnya."

"..."

"Sedangkan, kau tak pernah mencintainya kan?  Kau hanya mencintaiku."

Minggu, 03 Agustus 2014

Surat untuk Mahesa

Saat kamu membaca surat ini, mungkin kita sudah tidak bersama lagi menjadi kita.  Kita telah menjadi kitanya masing-masing.  Kitanya aku dan kitanya kamu.

Sebenarnya, surat ini sudah aku tulis lima belas tahun yang akan datang.  Di mana seperti yang aku katakan tadi, kita sudah tidak bersama.  Maka, aku kirim surat ini lima belas tahun yang lalu dari lima belas tahun yang akan datang.

Jangan kau kaget seperti itu menemui tulisan ini.  Tepat di mana masa telah beranjak lima belas tahun dari ini.

Aku melihat, tepat lima belas tahun dari sini kau telah bermain dengan perempuan lain yang telah menjadi pendampingmu.  Itu tidak masalah bagiku.  Kupikir, aku pun seperti itu. Bersama lelaki lain.  Lelaki yang tidak pernah aku cintai.  Lelaki yang telah menikahiku walau sejujurnya aku tak akan mau.

Aku hanya mengingatkanmu, setelah berbelas-belas tahun dari masa depan ini.  Di sebuah sudut kamarku di Jogja, masih terpajang lukisan senja yang pernah kita lukis bersama.  Aku selalu menengoknya di pagi hari.  Melihat lukisan senja yang terpapar dan memantulkan sinar fajar.

Lucu sekali, sang fajar bisa bertatap muka dengan senja.  Sesungguhnya fajar takkan pernah bisa bertemu dengan senja.  Mereka tak bisa bertatap muka,  bersama, ah... apalagi menyatu.  Saat fajar datang, senja tidak ada di tempatnya.  Dan saat senja nampak, fajar telah pergi dari tempat itu.  Begitu seterusnya.  Dan itu takkan pernah berubah.

Tapi kita... kita mampu membantu fajar mempertemukannya dengan kekasihnya.  Senja.  kita telah menolong mempertemukan mereka yang haus akan rindu.  Sepasang kekasih yang sejatinya tidak bisa bertemu.

Ah... Sudahlah, aku tidak ingin membahas itu dalam suratku ini.  Aku hanya ingin meminta, tengoklah lukisan itu, Mahesa.  Lukisan yang telah mempertemukan perasaan kita saat itu.  Jangan kau museumkan begitu saja dalam hatimu.

Mahesa, perlu kau ketahui, betapa perasaanku lima belas tahun yang lalu mengenai semua ini.  Saat kamu telah meminang wanitamu  itu.

Dengan surat ini, sebenarnya aku hanya ini meminta maaf kepadamu.  Memang, surat ini tak sempurna.  Karena lima belas tahun yang akan datang, aku sudah mulai renta.  Otakku renta, jari-jariku mulai renta juga.  Bahasaku juga.  Tapi, setidaknya aku bisa meninggalkanmu dengan lega setelah menulis tulisan ini.

Mahesa, perlu kau ketahui.  Aku menulis beberapa draf maafku untukmu.  Dan kau perlu tahu itu.
1.  Mahesa, maafkan aku.  Aku terlalu egois untuk mengatakan cinta kepadamu.  Saat kamu mencintaiku, aku selalu bungkam dan kadang berucap tidak.
2.  Mahesa, aku juga minta maaf, terlebih orangtuaku yang tak pernah menyetujui hubungan kita.  Karena perbedaan Tuhan dan kasta di antara kita.
3. Mahesa aku juga minta maaf.  Aku tidak bisa melupakanmu sampai saat ini.  Saat kita sudah bersama kitanya masing-masing.  Kita telah bersama buah hati kita masing-masing.
4.  Mahesa, aku juga minta maaf, sampai saat ini aku masih mencintaimu.  Mencintai suami orang lain.
5. Mahesa, maafkan  pengorbananku yang sia-sia.  Aku selalu berusaha keras untuk menjadi pengusaha yang nantinya bisa kita kembangkan bersama.  Tanpa kau ketahui itu.  Agar orangtuaku kelak, mau merestui kita.
6.  Mahesa, aku juga minta maaf jika ini adalah kalimat pertama dan terakhirku jika sesungguhnya, aku sangat mencintaimu.
7.  Dan yang terakhir, Mahesa, aku juga minta maaf.  Jika surat ini tak pernah sampai kepadamu.