Chalange hari ini
Kata Kunci : Buku
Waktu : 10 menit
Tanpa edit di luar 10 menit, dan lihat betapa berantakan hasilnya.
Sabtu, 28 Maret 2015
Tanatos
Entah, seberapa lama aku tidak pernah memerhatikannya. Pikiranku yang selalu tertutup oleh dirinya. Mungkin. Aku sering mengatakan tidak untuk jatuh cinta pada perempuan itu. Perempuan yang selalu datang menemuiku dengan buku setebal itu. S.H.I.M.L.Y., judul yang terbaca oleh mataku yang sedikit minus.
“Kau menyukainya?” tanyaku waktu itu.
“Ya. Seorang lelaki muda yang mengorbankan semua pendidikannya di luar negeri untuk kekasihnya.” Katanya yakin.
Sungguh, jika aku jadi lelaki dalam cerita itu, aku tak akan melakukannya. Oh... ada apa dengan lelaki seperti itu, yang mengorbankan studi di luar negeri karena masalah perempuan? Ah, bodoh sekali dia.
“Kau tak pernah jatuh cinta.”
Apa? Jatuh cinta? Aku pernah jatuh cinta. Ya... jatuh cinta. Tahu apa dia soal cinta? Oh, perlu kau tahu, perempuan itu namanya Tanatos. Nama yang mengingatkanku tentang teori Freud. Hasrat tentang... hal yang buruk dalam kehidupan ini.
“Kau sedang jatuh cinta?”
“Oh...tidak juga.” Katanya.
“Itu hanya novel, kau terlalu banyak membaca buku fiksi. Pantas saja kau selalu menceritakan hal-hal yang tidak realistik.”
“Tapi ini realistik.” Sanggahnya.
“Oh... mana mungkin? Lelaki mana yang berkorban, tidak melanjutkan studinya gara-gara seorang perempuan yang dia cintai? hah? Itu konyol.”
“Kau tak pernah jatuh cinta!”
“Aku pernah!”
Ya, setidaknya lima tahun lalu.
Sabtu, 28 Maret 2015
Minggu, 08 Februari 2015
EMBUN
menyejukkan,
bersembunyi di antara dedaunan yang masih menggeliat.
Manja,
tenang,
seperti bayi yang terlahir kembali.
Kadang meringkik,
menggeliat seolah tak mau bangun,
padahal,
mentari telah terik.
Memberikan kehangatan baginya,
lalu,
melenyapkannya.
Menghangatkan, tapi melenyapkan.
menenangkan, tapi membunuh.
Sleman, 8 Februari 2015
Kamis, 11 Desember 2014
Untuk Senja yang Rela Menanti
Senja. Begitu kata orang, dengan aroma remang yang telah
menghantarkan matahari bertepi pada garis cakrawala.
Perempuan itu menjatuhkan
pandangannya pada baner bertuliskan ‘Twizel Resto Baked Rice’ warna coklat.
Badannya kecil, ramping. Rambutnya coklat, hampir sepinggang. Wajahnya oval dengan paras yang lumayan
ayu. Kedua bola matanya berwarna coklat,
seperti orang jawa pada umumnya. Alisnya
melengkung tipis. Dipoles dengan pensil
alis warna coklat sehingga lebih rapi dari sebelumnya. Hidungnya mancung di bagian ujungnya. Seperti bukit kecil yang menyembul di antara
pipinya. Bibirnya kecil, dengan warna
peach yang dia poleskan. Perempuan itu turun
dari jok motor.
Bangunan kafenya terlihat
minimalis. Seperti rumah kecil berlantai
dua pada umumnya.
Pada sebuah senja di lantai dua,
dia melihat seorang lelaki yang duduk sendirian di balkon meja 16. Menikmati sebuah bacaan dan menenggelamkan
kedua bola matanya pada halaman buku. Tubuhnya
tidak terlalu kekar dan gagah. Bentuk
wajahnya diamond, dengan hidung yang tidak terlalu mancung. Rambutnya lebat, poninya yang tidak terlalu
panjang ditepiskannya ke arah kiri.
Lelaki itu mengenakan kemeja
kotak-kotak warna putih-ungu. Lengannya ia
lipat sesiku. Dipadukan dengan celana
jeans warna hitam dan sepatu converse hitamnya.
“Ve,” sapa lelaki itu.
Ia tak melanjutkan bacaannya. Memindahkan fokusnya pada perempuan yang ia panggil
Ve. Kini mereka duduk berhadapan. Hanya ada sekat meja kaca di antara
keduanya. Ve masih sibuk beradaptasi
dengan kursi mungil yang didudukinya.
“Ehm.” Ve berdehem.
Mungkin, kali ini dia mencoba beradaptasi dengan suaranya. Lalu meletakkan tas mungilnya di lantai.
Kini kedua pasang mata itu
beradu. Tak lama, lelaki itu tersenyum.
“Oke,” katanya, “kamu mau pesan apa?”
Ve tersenyum. Mengangkat bahu, lalu mulai membuka buku menu
yang dipegangnya.
“Bukankah kali ini kau ingin
bicara serius tentang ...?” tanya Ve tak
selesai sambil membuka buku menu.
Tangannya terhenti, dia menatap lelaki di depannya yang memiliki nama...
Damar. Senyumnya mengembang.
“Iya,” jawab Damar mengangguk lalu tersenyum.
“Apakah ada klien lagi?” tanya Ve kembali melihat buku menunya.
Damar menggeleng, menyendokkan caramel chocolate ke dalam mulutnya.
“Aku rasa, aku punya pekerjaan
yang lebih rumit daripada menjodohkan anak adam dan hawa itu.”
“Hm...” Damar berdehem, menggelengkan kepala. Dia tersenyum, lalu melemparkan pandagannya
ke luar. Menikmati semburat senja yang
makin lenyap.
“Aku tahu, kamu pasti tahu semua
di dunia ini selalu berpasang-pasangan bukan?”
tanya Ve.
Damar mengernyitkan dahi, terlihat lebih serius. Membuat kedua alisnya hampir bertemu. Tapi menjauh lagi.
“Lalu?” tanya Damar seolah tak mengerti dan ingin
tahu lebih jauh apa maksud dari pertanyaan Ve.
“Kau sebutkan saja, apa saja yang
diciptaan berpasang-pasangan di dunia ini.”
Kata Ve.
“Maksudmu?” Damar terlihat bingung. “Kita hanya mempertemukan dua manusia. Dengan rasa cinta. Dan kalau bisa mereka berjodoh. Itu
saja.” Kata Damar.
“Hei, bukan hanya manusia saja
yang berjodoh dan butuh cinta.” Kata Ve.
Ve mengangkat tangannya, berharap
ada waiter atau waitres menuju tempatnya.
Setelah memberikan paper order dan waiter itu membacakan ordernya, Ve
kembali membicarakan hal itu kepada Damar.
Ya, di sela aktivitasnya sebagai
mahasiswa, Damar dan Ve memiliki kegiatan unik.
Yaitu mencoba menyatukan dua insan manusia menjadi satu. Bisa dibilang mak comblang dan bisa dibilang
itu bukan mak comblang. Apapun itu
namanya, bagi mereka tidak penting. Niat
mereka hanya satu, ingin menyatukan mereka yang sulit untuk bersatu dalam
sebuah cinta.
“Kamu mulai gila.” Kata Damar.
“Tidak, aku tidak gila Damar. Tunggu dulu.”
Kata Ve sambil mengubah posisi duduknya.
“Tidak seharusnya kita membatasi hanya manusia saja yang hidup
berpasangan. Selain manusia, mereka juga
dipersatukan. Hidup berpasangan.”
“Aku tak mengerti, apa yang ada
dalam otakmu Ve.” Kata Damar lagi.
“Hei, anggap saja ini hanya
permainan. Tantangan kita. Toh, kita lagi kosong. Nggak ada klien. Kenapa nggak bikin seru-seruan aja dengan hal
ini?” ucap Ve.
“Terus terang saja. Maksudmu apa?” tanya Damar penasaran dengan apa yang
dikatakan Ve dari tadi.
Ve terdiam. Dia menatap senja. Tangannya memainkan vas kecil di atas
meja. Diputar-putarnya vas kecil itu.
“Kita hanya penikmat senja.” Kata Ve. “Penikmat senja yang tak bisa mengeja senja
dengan baik.” Wajahnya menunduk.
Damar terdiam, berusaha memaknai
kalimat yang keluar dari ucapan Ve.
Beberapa kali Damar mengetukkan jari telunjuknya di atas meja. Hingga terdengar suara, “tuk-tuk”.
“Pernahkah kamu berpikir tentang
senja yang renta itu?” tanya Ve, kembali
menatap senja. “Bahkan, dia tak pernah
memberitahu kekasihnya akan keadaannya sekarang. Tiada yang peduli. Manusia hanya sibuk bersenang-senang dengan
cinta yang dia punya tanpa tahu lebih banyak tragedi senja. Manusia penikmat senja, menikmati senja
bersama kekasihnya. Memamerkan
keromantisannya di bawah aroma senja.”
Mereka terdiam.
“Padahal, senjalah yang
berkontribusi sehingga suasana itu menjadi romantis. Kasihan senja. Melihat ribuan manusia memadu kasih. Sedangkan, dia sendiri tak bisa itu.” Tambah Ve.
Pernyataan Ve ada benarnya. Mengenai senja yang selalu kesepian tanpa
kekasihnya. Tapi bagi Damar, itu terlalu
konyol. Ve terlalu gila dan tak waras
mengurus senja yang seperti itu.
“Kau...” ucap Damar, “kau lucu. Kau mulai tak waras Ve.” Katanya sambil tertawa. Tubuhnya bergerak mengikuti gelak tawanya.
Aura Ve berubah. Kini semakin buruk, penuh dengan rasa
negatif. Ve tampak kecewa melihat reaksi
Damar.
Baginya, ini sebuah keseriusan. Keseriusan yang muncul dalam hatinya, sebuah
rasa dengan hati. Penikmat senja, tapi
ingin tahu tragedinya. Dengan pikirannya
sendiri. Pikiran yang terus berporos dan
tak mau lepas dari pusarannya.
“Aku serius Damar!”
Damar terdiam. Tawanya terhenti.
***
Sejak kejadian itu, Ve dan Damar jarang bertemu. Dua minggu terakhir, Ve tidak pernah ke
kampus lagi. Damar menjadi khawatir
dengan Ve. Ia merasa bersalah kepada Ve. Ada apa dengannya? Ia sudah berusaha mencari tahu di mana Ve,
tetapi tak ada informasi yang ia dapatkan.
Setiap Damar ke rumah Ve, dia tak pernah di rumah. Orang tuanya juga tidak tahu, ke mana Ve
pergi.
Pada suatu senja di sudut Jogja,
tanpa sengaja Damar bertemu dengan Ve.
Kali ini Ve berada di Kafe Sunrise Senturan sendirian. Dengan drawing book ukuran A3 dihadapannya
dan pensil 2b hijau tua di tangan kanannya.
“Ve...” sapa Damar pelan.
Ve kaget, dia segera menutup
lukisannya. Sebelumnya, Damar sempat
melirik sketsa yang Ve buat. Tapi tidak
begitu jelas. Hanya terlihat gambar
matahari yang mulai terbenam. Ve
terdiam, lalu mengambil secangkir hot
chocolate seolah tak ingin tahu keberadaan Damar.
“Ve,” sapa Damar lagi.
Tak ada sahutan. Ve menelan minuman yang baru saja masuk ke
dalam rongga mulutnya.
Damar tak kehabisan akal. Ia menarik kursi dan duduk di samping kanan
Ve. Sepasang matanya menatap Ve dengan
redup. Pandangan Ve kosong. Wajahnya putih bersih. Tapi redup.
Damar mencoba mendekatkan diri dan mulai memasuki garis nyaman Ve. Ia menggenggam tangannya.
“Ve...” kata Damar pelan, “aku minta maaf.”
Ve tak merespon. Terdengar napas Damar yang mendesah
panjang. Damar mencoba mencari cara
lain. Ia menoleh pada sudut ruangan itu,
lalu kembali menatap Ve.
“Aku tahu aku salah. Aku mentertawakanmu sore itu. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu
kepadamu. Aku ingin, hubungan kita
seperti dulu Ve. Tidak seperti
ini.” Kata Damar.
“Ya.” Kata Ve hampir tak terdengar. Dia menarik tangannya yang dipegang Damar.
“Kamu serius memaafkan aku?” tanya Damar lagi.
“Iya. Mar.”
Ve mengangguk.
Bahasa tubuh dan komunikasi
mereka masih terlihat dingin dan kaku.
Damar berusaha masuk ke dalam perasaan Ve.
Entah, apa yang Damar lakukan
hingga hubungan itu makin lama akhirnya kembali membaik. Beberapa senyum yang indah mulai muncul dari
bibir Ve. Begitu juga dengan Damar.
Bahkan, mereka sempat tertawa dan bercanda setelah beberapa menit yang
lalu hanya bungkam.
“Jadi, kau ingin memberikan
sketsa senja ini untuk fajar?” tanya
Damar.
“Iya. Fajar pasti senang bisa menatap senjanya. Meski hanya sebuah lukisan.” Katanya.
“Mereka adalah sepasang kekasih yang tak pernah memandang, bertemu,
apalagi beradu. Mungkin sketsa ini mampu
mengobati kerinduannya. Bisa menceritakan
dan mendiskripsikan kekasihnya yang mulai renta itu. Dan menghilang ditelan usia.”
“Baiklah.” Damar mengangguk.
Sejujurnya, Damar bingung juga
dengan kemauan Ve yang ingin mempertemukan fajar dengan senja lewat sketsa
itu. Itu tindakan bodoh, tidak cerdas,
dan tidak masuk akal. Entah siapa yang
mulai tak waras. Dirinya, atau Ve dengan
sikapnya yang dibilang tak masuk akal itu.
Ia tidak mengerti, apa yang ada dalam pikiran Ve.
Damar hanya mengikuti kemauan Ve,
cara berpikir Ve yang sedikit aneh. Ia mencoba
memasuki jalan pikirannya meskipun, sulit.
Ia tidak mau hubungannya berantakan lagi lantaran ia selalu mentertawai
tindakan Ve yang konyol itu.
Pada suatu sore, Damar mengajak
Ve ke Bukit Bintang yang terletak di Patuk, Gunungkidul sebagai permintaan
maafnya kepada Ve.
“Kamu bisa menikmati dan mengeja
senja lebih baik di sini untuk sketsamu itu.
Di sini jauh lebih baik kan?”
tanya Damar.
Ve tersenyum, dia
mengangguk. Matanya berbinar.
“Terima kasih. Ini senja terindah dalam hidupku.”
“Melukislah dengan ini.” Damar memberikan kanvas dan cat air yang dia
bawa dari Jogja.
Damar kini seolah telah masuk ke
dalam pusaran pikiran Ve. Mengikuti, dan
mulai melakukan apa yang dilakukan Ve.
Kini mereka melukis senja.
Melukis senja yang esok harinya diberikan kepada fajar di Gunung Api
Purba Nglanggeran. Lebih tepatnya,
setelah lukisan senja itu terbentuk sempurna selama lima hari senja
berturut-turut di Bukit Bintang.
Fajar menyinari senja itu dengan
hangat. Memantulkan cahaya terangnya
hingga senja itu bersinar kekuningan. Ve
tersenyum puas melihat tragedi itu.
Sebuah fajar yang menatap senja.
Damar sendiri, ia tersenyum melihat tingkah Ve yang sedikit aneh itu.
“Aku ingin, suatu saat senja juga
mampu menatap kekasihnya seperti ini.
Membaca ceritanya, atau apapun itu.”
Kata Ve sambil menatap senja pada pagi hari.
“Kau ingin melukis fajar untuk
senja?” tanya Damar.
“Mungkin.” Jawab Ve pelan. Matanya masih menatap lukisan itu. Jarinya menghusap lukisannya.
“Bukankah kau pernah bilang jika
senja sudah terlalu renta? Untuk kriteria
itu, mungkin dia sudah tidak mampu menatap dengan lebih baik lagi.” Kata Damar tidak beranjak dari tempat
duduknya.
Ve mengalihkan tatapannya pada
Damar. Dia terdiam mendengar
pernyataannya. Kali ini, Damar yang
mencoba menguasai pikiran Ve.
“Kau ingin menertawakanku
lagi?” tanya Ve.
“Tidak Ve. Tidak.”
Katanya, “kenapa kau tak menulis surat atau puisi saja untuk senja? Untuk pagi hari, suasana itu lebih indah
untuk berpuisi bukan? Menurutku, itu
mampu memberikan diskripsi fajar yang lebih baik.”
Kali ini Damar yang
menguasai. Ve mengangguk setuju dengan
apa yang dikatakan Damar. Kini, Ve yang
mulai mengikuti cara berpikir Damar.
Mempertemukan senja dengan kekasihnya melalui puisi.
“Iya, kamu benar. Aku akan menulis puisi untuk senja.” Kata Ve.
***
Dibukanya kertas warna tosca yang terlipat rapi itu. Seperti puisi, mungkin surat, atau puisi di
dalam surat? Atau... surat di dalam
puisi? Entahlah.
Aku
mencintaimu seperti fajar dan senja
tak
pernah memandang, bertemu, bahkan beradu.
Memang
seharusnya seperti itu.
Aku
tak pernah tahu kamu, kamu tak pernah tahu aku
dalam dasar
hati yang paling dalam.
Aku
mencintaimu seperti fajar dan senja
tak
pernah memandang, bertemu, bahkan beradu.
Seharusnya
tetap seperti itu.
Aku mau itu, karena aku ingin kita begitu
dengan rasa
yang tak pernah kau tahu.
Aku pernah
jatuh cinta kepada lelaki. Lelaki yang
dijodohkan untuk perempuannya.
Jika
kita bisa menyatukan kedua anak adam yang berjodoh dengan rasa cinta,
maka
tidak untuk diriku.
Jika
aku mampu mempertemukan fajar dan senja lewat lukisannya,
maka tidak
untuk diriku.
Kita tak
pernah tahu, ke mana sebuah kisah akan bermuara. Tapi di sinilah kita berakhir.
Penyakit
kistaku telah membawaku pada perbatasan usia, Damar. Seperti senja yang menghilang ditelan
malam. Di sanalah aku berada. Itu sebabnya kenapa aku selalu iba kepada
senja.
Kini aku
menikmati senja di surga, melukisnya lalu memberikannya kepada fajar setiap
pagi.
Senja di surga
lebih indah, Damar. Tidak seperti di
rumahku dulu. Aku berharap, kita bisa
bertemu lagi di sini. Aku menunggumu.
Aku ingin melukis senja berdua bersamamu seperti dulu. Di surga. Jika dunia tidak menjodohkan kita
dalam cinta yang saling menyapa, setidaknya aku masih menyimpan harapan di
surga. Lelaki dengan kemeja sesiku yang aku cintai.
Ve
Alfria
Kini Damar tahu, apa sebabnya Ve
selalu menatap senja dan mendiskripsikan senja seperti itu. Bagi Ve, senja adalah dirinya. Senja yang akan menghilang. Ditelan usia.
Kini Damar juga tahu, ternyata Ve
mencintainya. Di saat Damar
kehilangannya.
Sleman, 15 Agustus 2014
Wanda Sp
Setelah Batas Senja
Yogyakarta, Juli 2014.
“Pukul, pukul, ayo pukul!”
“…”
“Pukul aku! Ya!
Pukul aku! Tampar!!!” Teriak wanita itu pada lelakinya.
Memuakkan.
***
Malam itu, setelah aku memesan menu Spicy Tuna Baked Rice dan Fresh
Apple Lasy di sebuah kafe masakan barat.
Aku sedikit membungkuk, mengambil
sebuah kantong biru berisi kotak kado di samping kursiku.
Lukas, matamu yang kecoklatan, dan
terlihat tajam saat kau menatapku. Itu
memberiku sinyal, untuk terus mencintaimu.
Kenyataannya, aku tidak bisa lepas dari semua itu. Bibirmu yang manis, dan selalu tersenyum
kepada setiap orang. Itu membuatku
mengerti, betapa kamu peduli kepada mereka.
Sikapmu yang ramah tanpa memandang rendah kepada siapapun. Rambut hitammu yang sedikit bergelombang dan
hampir menutupi telingamu itu, membuatmu jauh lebih keren dan manis di
mataku. Aku tidak bisa menolak semua
kenyataan itu, Lukas.
Selama enam bulan, aku dan kamu
menjadi kita. Di sana tidak ada
kehidupan antara aku dan kamu. Tapi
melebur menjadi kita. Menyatukan dua
kehidupan menjadi satu yang jauh lebih berwarna.
Tahukah engkau Lukas, sosok yang
tenggelam dalam hatiku? Jika waktu itu
aku hanya memiliki sebuah kuas dengan warna hijau untuk melukis keindahan. Maka, saat itu pula aku hanya mampu melukis
tangkai, daun, atau sekedar bentangan padang rumput yang hijau. Tak ada menariknya.
Buruk sekali bukan? Tapi, setelah kamu datang menghampiriku
membawa kuas dengan cat warna merahmu, semua berubah. Kamu menyempurnakan goresan itu hingga terbentuk
sebuah lukisan yang penuh arti. Dengan
kelincahan tangan kita memainkan kuas masing-masing dalam sebuah kanvas, pada
saatnya, terbentuklah lukisan yang sangat cantik, indah, dan begitu sempurna. Bermula dari dua umat manusia, dua hati, dua
kepribadian, dua tangan, dan dua sifat pada goresan kuas. Pada akhirnya bertemu dalam satu impian di
atas kanvas. Setangkai mawar merah milik
kita. Lukisan yang sangat indah ya, Lukas? Ya, kamu menyempurnakan lukisanku, Lukas.
Kamu hebat.
“Bukan aku, atau kamu. Tidak ada aku, dan kamu disini. Tapi kita.
Kita hebat,” katamu waktu itu sambil menanggalkan senyum dalam jiwaku.
Tidak hanya itu, Lukas. Kau telah banyak melukiskan dan memberikan
warna dengan kuasmu tidak hanya di kanvasku, tapi dalam kehidupanku. Itu adalah lukisan nyata yang akan selalu
kukenang sepanjang usiaku. Mengubah
hidupku yang monoton menjadi lebih kontras.
“Kita akan selalu memiliki seni
yang indah untuk saling menyempurnakan kehidupan pasangan kita. Tahu
kenapa? Agar kita mendekati kesempurnaan
cinta. Menjadi sepasang kekasih yang
indah. Cinta sangat butuh seni, agar
tidak ada rasa jenuh. Karena aku tak
ingin kita seperti itu.” Katamu dulu.
Mengingat kejadian-kejadian kemarin
membuatku semakin rindu kepadamu, Lukas.
Ya, malam ini aku ingin segera menjumpaimu, memelukmu, dan merasakan
ketenangan dalam jiwaku. Tepatnya, pada
usiamu yang genap dua puluh empat tahun.
Betapa indahnya kenangan kita selama ini.
Aku selalu mengingatmu,
mengingatmu, dan terus meingingatmu. Di sini, di sana, di manapun berada. Kemarin, saat ini, bahkan lusa, aku sudah
mengingatmu. Kepastian yang jelas
bagiku.
Tik-tok tik-tok tik-tok…
Waitress itu tersenyum sembari
meletakkan menu di mejaku. Aku balik
tersenyum kepadanya. Pikiran ini masih
terbayang akan ingatan tentang kita.
Mungkin itu yang membuat moodku lebih baik dan memperlakukan waitress dengan sopan.
“Terimakasih.” Kalimatku.
Waitress itu balik mengangguk.
Tahukah engkau, Lukas? Selepas aku keluar dari kafe ini, aku akan
segera ke rumahmu. Menemuimu. Memberikan ucapan dan doa di ulangtahunmu
lengkap dengan rainbow cake kesukaanmu.
Menurutmu, rainbow adalah cake yang penuh dengan emosi kebahagiaan. Warnanya yang tegas seperti pelangi
memberikan kesan akan keceriaan dan banyaknya warna kehidupan. Maka dari itu, kau lebih suka dengan cake
yang satu ini. Menyemangati kehidupanmu.
Ya, kamu orangnya seperti penenun, Lukas. Menenun setiap kata yang sederhana menjadi
magis dalam serapanku. Kalimatmu selalu
mengalir indah dalam pikiranku untuk kumaknai.
Lalu jatuh pada perasaanku.
“Coba, aku ingin kita memaknai dari
sisi indera penglihatan. Tahu kenapa,
karena informasi pertama kali bermula dari apa yang kita lihat. Brownies itu memang lebih manis. Tapi, lihatlah warnanya yang selalu
coklat. Warnanya dominan. Itu monoton.
Bagaimana jika kehidupan selalu didesain monoton seperti itu? Kurasa mereka akan bosan. Seperti hidup yang
hanya didesain dengan satu emosi saja, atau hal monoton lainnya. Mereka akan bosan dan stress.”
Aku tak merespon.
“Lain dengan rainbow cake. Lihatlah, dia penuh warna. Kurasa, manusia tidak akan bosan dengan
kehidupan yang lebih bervariasi. Mereka
akan jauh lebih bisa memaknai dan memahami kehidupan dengan banyaknya variasi
dan kondisi yang berbeda. Kita tidak
akan hidup lebih baik hanya dengan satu rasa bukan?” Katamu waktu itu. Kata-kata itu terlalu indah kau ucapkan.
***
Setelah keluar dari kafe
Perjalanan yang cukup
mendebarkan. Sebelumnya aku memang
sengaja tidak memberi tahu kalau aku akan ke rumahmu. Tapi aku sangat yakin kalau kamu di rumah. Setelah beberapa waktu tadi, kita yang lain
saling bertukar info lewat whatshap.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh
menit perjalanan dari kafe itu ke rumahmu.
Dan itu memicu adrenalinku.
Menjadi semakin cepat.
Motorku mulai memasuki Gang
Kembang, Jantungku berdegub semakin
kencang. Tidak ada siapapun di sana,
malam begitu sepi. Dinginnya angin
sedikit memburu. Aku membelokkan motorku
ke kanan. Aku berhenti mendadak. Rumah deret ketiga dengan gerbang warna biru
adalah rumahmu. Aku terdiam. Aku ingin membuat kejutan untukmu, Lukas.
Dengan keputusan yang kubuat secara
mendadak, aku memarkirkan motor di tepi lahan kosong dekat pos ronda. Di sana, aku mulai menghias rainbow cake
kesukaanmu dengan lilin kecil yang berwarna-warni. Bagimu, lilin-lilin kecil yang banyak jauh
lebih baik karena mereka bersama-bersama untuk membentuk sebuah kekuatan cahaya
menjadi satu yang lebih terang.
“Novia, tahu kenapa? Aku lebih suka memberikan lilin-lilin kecil
ini di kue ulangtahunmu daripada dua lilin dengan angka umurmu yang
sekarang. Itu karena mereka jauh
memiliki kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan akan cahaya terangnya. Mereka bisa menyinari setiap sisi kue
ini. Walaupun mereka tidak terlalu
terang, tapi kebersamaan itu jauh lebih penting dalam mencapai tujuannya.”
“…”
“Seperti kamu. Kamu baru akan bisa mencapai tujuanmu ketika
bersama orang-orang di sampingmu, orang yang menyayangimu, orang yang saling
merangkulmu. Maka, capailah mimpi di
usiamu ini bersama mereka. Jangan pernah
meninggalkan mereka.”
Aku terharu mendengar dan mengingat
kalimatmu itu. kalimat itu kudapati di ulang tahunku empat bulan lalu.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh
suara pintu gerbang yang tersentuh tangan manusia. Suara roda pada gerbang yang bergesek dengan
lintasannya terdengar cukup jelas.
Jantungku mulai berdegub lebih kencang.
Mungkinkah itu engkau Lukas, orang yang terus kucintai? Engkaukah yang menggeser dan membukakan
gerbang itu, hingga membuat badanku gemetar dan lemas?
Sebagian badannya yang
membelakangiku masih terhalang tembok. Itu
membuatku masih menduga-duga dan belum begitu yakin. Dan aku kira, sepertinya dia adalah kamu, Lukas. Dari postur tubuhnya, sepertinya kamu. Dan setelah dia keluar dari gerbang
itu,ternyata dia adalah kamu Lukas.
Buruk bukan, aku memanggilmu
dia. Bukan bagian dari kita, atau kamu.
Aku berbalik badan, berharap kau
tidak melihatku. Aku semakin gemetar
dengan rainbow cake di tanganku. Waktu
begitu cepat. Aku mulai cemas. Detak jantungku terdengar begitu jelas. Aku berada di balik motor dan bersembunyi di
dekat pohon pisang. Untuk memastikan kau
tak melihatku, aku sesekali menengok ke arahmu.
Dan pada suatu tolehanku, aku menemukan sebuah kejadian.
Atmosfer yang berbeda.
Benarkah atmosfer telah berubah?
Di bawah sinar lampu, kau mencium
seorang wanita cantik yang tidak aku kenal.
Lukas? Mataku terbelalak tajam. Emosiku berubah. Aku menyadari ada lonjakan emosional. Aliran darah mengalir begitu cepat dalam
tubuhku, terutama kepalaku. Aku
merasakan ada perubahan suhu tubuhku yang naik.
Napasku semakin kuat.
Aku tak percaya. Pikiranku menolak atas apa yang aku lihat. Aku
terpaku, mematung, membisu. Badanku
semakin gemetar hebat.
Kulihat, kau mendekapnya, mencium
bibirnya, menghusap rambutnya. Begitu
lama. Sangat lama, Lukas. Pada perempuan yang bersandar di tiang
lampu. Perempuan anggun dengan rambut
hitam lekat. Menggunakan dress
bunga-bunga selutut. Sungguh bengis.
Itu tidak mungkin. TIDAK MUNGKIN LUKAS!
Siapa itu Lukas! Siapa?
Lukas, kamu… oh. Apa semua itu Lukas? Aku tidak percaya kalau itu kamu Lukas!
Aku berteriak dalam hati. Aku tak bisa berkata satu katapun melihat
kejadian ini. Sungguh, ini tidak
mungkin. Nafasku menjadi semakin tidak
beraturan. Aku lemas, aku benar-benar
tersentak melihat apa yang aku lihat secara langsung. Tidak mungkin kamu seperti itu. Bukan begitu, Lukas?
Aku benar-benar ingin berlari
menghampirimu biar aku puas jika itu bukan kamu Lukas. Mana mungkin kamu melakukan hal itu.
Kuatur gejolak jiwaku.
Aku tidak dapat memberikan definisi
dengan jelas keadaan disekitarku. Aku tidak
bisa teriak, marah. Aku tidak bisa semua
itu. Persendianku melemah.
Rainbow cake yang tadi kupegang,
aku tak memikirkannya . Aku hanya
terfokus oleh apa yang aku lihat. Itupun
tak dapat kupercayai. Entah, berapa
banyak aku melangkah dari posisiku semula.
Tapi, aku kembali terhenti dan mematung.
Keadaan itu seolah pertemuan antara dunia mimpi dan nyata. Aku sulit membedakan.
Dalam keadaan setengah mimpi itu,
sosok itu seolah mengetahui keberadaanku.
Dia terdiam, melihatku dari jauh,
di depan tiang listrik itu. Begitu lama.
Dia bergerak satu langkah dengan
langkah kaki yang berat. Kemudian
terhenti, terdiam. Seolah ada komunikasi
magis diantara aku dan dia.
Tik-tok tik-tok tik-tok.
Tak lama, aku mulai merasakan
adanya langkah-langkah ringan menuju posisiku.
Entahlah, berapa lama. Kemudian
aku melihatnya tepat di hadapanku.
Pipiku basah.
Ternyata sosok itu benar-benar kamu
Lukas. Postur tubuhmu, wajahmu, atribut
pakaianmu, dan aroma parfummu. Itu sudah
cukup mendefinisikan jika itu kamu.
Aku mematung, kamu mematung. Kita yang lain sama-sama mematung. Terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar
dari mulut kita. Tidak ada yang bergidik
diantara aku dan kamu. Tapi, komunikasi
magis itu seolah membayangi pikiran kita masing-masing.
Pikiranku berkelana
kemana-mana. Dan aku tak tahu apa yang
ada dalam pikiranmu waktu itu. aku
sedang tidak ingin menebak apa yang kamu pikirkan. Karena aku memang tak mau.
Aku tahu, kita memang sudah putus
empat hari yang lalu. Tapi seperti
inikah caramu? Memberikan kita yang lain
dengan lebih sakit.
Oh, tidak. Ternyata yang aku lihat salah. Lebih sakit lagi memang. Ternyata dia bukan sosok perempuan. Sosok yang bersandar pada tiang lampu.
Langganan:
Postingan (Atom)


