Kamis, 16 Oktober 2014

Cerita Singkat #diary

Jiwa ini kembali tersedot dalam daya magisnya.  Memberikan wadah akan segelintir rasa yang sempat kusematkan dengan dalam--sebuah hati yang pernah sedikit... mungkin tergores.  Dan dirinya... Kini kembali berkelana liar--bebas memainkan perasaan ini.

Hati yang telah kututup rapat, bisikku.  Tak ingin membiarkan lelaki lain untuk menyusup ke dalamnya.  Seolah mencari celah, atau... seperti air yang perlahan merembes pada dinding kamar.   Yang akhirnya kujumpai dinding kamar lembab setiap pagi.

Kini dinding itu kembali roboh.  Bukan!  Bukan dinding kamar yang memang lembab karena air.  Tapi, sesuatu yang berbeda dalam diriku ini.  Dalam perasaanku.  Getir, sedikit berdegub, dengan getar yang sulit dijelaskan.  Seperti dinding kamar mungkin--emosinya.  Hanya saja, jauh lebih... luka.

Hidup itu seperti sebuah lingkaran.  Saling berkaitan, dan selalu berhubungan.  Begitulah caraku memandang hidup.  Awalnya, aku dan dia hanya sebuah ujung.  Yang nantinya akan berhenti pada satu titik akhir.  Namun, alur ini mengembalikanku pada sebuah ujung yang pernah dimulai.  Seperti lingkaran, mengembalikanku dan dia seperti ini lagi.

Selasa, 07 Oktober 2014

PENGHUJUNG SENJA : Wahyu Inda Syah P.

Senja itu mati.  Yang telah lama meninggalkan luka dalam secarik sketsa.  Sketsa yang pernah kita tulis dalam angan masa depan.

Ah, kamu.  Kenapa harus kamu yang memberiku sakit seperti ini.  Sakit yang tak pernah tahu waktu.  Sakit yang tak pernah ingkar janji, sakit yang mencemburui kebahagiaan kita.

Oh, tidak.  Bukan kita.  Tapi... kebahagiaanmu.  Bukankah begitu?

Kau tak pernah tahu waktu untuk datang kepadaku.  Dan memberikan atmosfer dengan sinergi yang luar biasa.  Maka, memang seharusnya kan, kau pergi juga tak tahu waktu.  Di saat hati ini telah terpaut erat oleh daya magismu.

Senja mungkin cemburu.  Di sini hanya tinggal bisikan malam.  Lalu, harmoni itu ikut mati bersama senja yang menghilang.  Bersama kepergianmu, yang tak pernah ku tulis dalam outlineku.

Oh, mungkin.  Ah, seharusnya tak pantas aku menuliskan ini.  Terlalu buruk.  Atau... cukup menampar mukaku sendiri.  Begitu burukkah?

Ah, tulisan ini.  Tulisan dengan rasa yang terlalu kontras.

Oh, memang, bukankah kalimat yang indah justru muncul dari hati yang terluka kan?  Bukan hati yang berbahagia?