Senja. Begitu kata orang, dengan aroma remang yang telah
menghantarkan matahari bertepi pada garis cakrawala.
Perempuan itu menjatuhkan
pandangannya pada baner bertuliskan ‘Twizel Resto Baked Rice’ warna coklat.
Badannya kecil, ramping. Rambutnya coklat, hampir sepinggang. Wajahnya oval dengan paras yang lumayan
ayu. Kedua bola matanya berwarna coklat,
seperti orang jawa pada umumnya. Alisnya
melengkung tipis. Dipoles dengan pensil
alis warna coklat sehingga lebih rapi dari sebelumnya. Hidungnya mancung di bagian ujungnya. Seperti bukit kecil yang menyembul di antara
pipinya. Bibirnya kecil, dengan warna
peach yang dia poleskan. Perempuan itu turun
dari jok motor.
Bangunan kafenya terlihat
minimalis. Seperti rumah kecil berlantai
dua pada umumnya.
Pada sebuah senja di lantai dua,
dia melihat seorang lelaki yang duduk sendirian di balkon meja 16. Menikmati sebuah bacaan dan menenggelamkan
kedua bola matanya pada halaman buku. Tubuhnya
tidak terlalu kekar dan gagah. Bentuk
wajahnya diamond, dengan hidung yang tidak terlalu mancung. Rambutnya lebat, poninya yang tidak terlalu
panjang ditepiskannya ke arah kiri.
Lelaki itu mengenakan kemeja
kotak-kotak warna putih-ungu. Lengannya ia
lipat sesiku. Dipadukan dengan celana
jeans warna hitam dan sepatu converse hitamnya.
“Ve,” sapa lelaki itu.
Ia tak melanjutkan bacaannya. Memindahkan fokusnya pada perempuan yang ia panggil
Ve. Kini mereka duduk berhadapan. Hanya ada sekat meja kaca di antara
keduanya. Ve masih sibuk beradaptasi
dengan kursi mungil yang didudukinya.
“Ehm.” Ve berdehem.
Mungkin, kali ini dia mencoba beradaptasi dengan suaranya. Lalu meletakkan tas mungilnya di lantai.
Kini kedua pasang mata itu
beradu. Tak lama, lelaki itu tersenyum.
“Oke,” katanya, “kamu mau pesan apa?”
Ve tersenyum. Mengangkat bahu, lalu mulai membuka buku menu
yang dipegangnya.
“Bukankah kali ini kau ingin
bicara serius tentang ...?” tanya Ve tak
selesai sambil membuka buku menu.
Tangannya terhenti, dia menatap lelaki di depannya yang memiliki nama...
Damar. Senyumnya mengembang.
“Iya,” jawab Damar mengangguk lalu tersenyum.
“Apakah ada klien lagi?” tanya Ve kembali melihat buku menunya.
Damar menggeleng, menyendokkan caramel chocolate ke dalam mulutnya.
“Aku rasa, aku punya pekerjaan
yang lebih rumit daripada menjodohkan anak adam dan hawa itu.”
“Hm...” Damar berdehem, menggelengkan kepala. Dia tersenyum, lalu melemparkan pandagannya
ke luar. Menikmati semburat senja yang
makin lenyap.
“Aku tahu, kamu pasti tahu semua
di dunia ini selalu berpasang-pasangan bukan?”
tanya Ve.
Damar mengernyitkan dahi, terlihat lebih serius. Membuat kedua alisnya hampir bertemu. Tapi menjauh lagi.
“Lalu?” tanya Damar seolah tak mengerti dan ingin
tahu lebih jauh apa maksud dari pertanyaan Ve.
“Kau sebutkan saja, apa saja yang
diciptaan berpasang-pasangan di dunia ini.”
Kata Ve.
“Maksudmu?” Damar terlihat bingung. “Kita hanya mempertemukan dua manusia. Dengan rasa cinta. Dan kalau bisa mereka berjodoh. Itu
saja.” Kata Damar.
“Hei, bukan hanya manusia saja
yang berjodoh dan butuh cinta.” Kata Ve.
Ve mengangkat tangannya, berharap
ada waiter atau waitres menuju tempatnya.
Setelah memberikan paper order dan waiter itu membacakan ordernya, Ve
kembali membicarakan hal itu kepada Damar.
Ya, di sela aktivitasnya sebagai
mahasiswa, Damar dan Ve memiliki kegiatan unik.
Yaitu mencoba menyatukan dua insan manusia menjadi satu. Bisa dibilang mak comblang dan bisa dibilang
itu bukan mak comblang. Apapun itu
namanya, bagi mereka tidak penting. Niat
mereka hanya satu, ingin menyatukan mereka yang sulit untuk bersatu dalam
sebuah cinta.
“Kamu mulai gila.” Kata Damar.
“Tidak, aku tidak gila Damar. Tunggu dulu.”
Kata Ve sambil mengubah posisi duduknya.
“Tidak seharusnya kita membatasi hanya manusia saja yang hidup
berpasangan. Selain manusia, mereka juga
dipersatukan. Hidup berpasangan.”
“Aku tak mengerti, apa yang ada
dalam otakmu Ve.” Kata Damar lagi.
“Hei, anggap saja ini hanya
permainan. Tantangan kita. Toh, kita lagi kosong. Nggak ada klien. Kenapa nggak bikin seru-seruan aja dengan hal
ini?” ucap Ve.
“Terus terang saja. Maksudmu apa?” tanya Damar penasaran dengan apa yang
dikatakan Ve dari tadi.
Ve terdiam. Dia menatap senja. Tangannya memainkan vas kecil di atas
meja. Diputar-putarnya vas kecil itu.
“Kita hanya penikmat senja.” Kata Ve. “Penikmat senja yang tak bisa mengeja senja
dengan baik.” Wajahnya menunduk.
Damar terdiam, berusaha memaknai
kalimat yang keluar dari ucapan Ve.
Beberapa kali Damar mengetukkan jari telunjuknya di atas meja. Hingga terdengar suara, “tuk-tuk”.
“Pernahkah kamu berpikir tentang
senja yang renta itu?” tanya Ve, kembali
menatap senja. “Bahkan, dia tak pernah
memberitahu kekasihnya akan keadaannya sekarang. Tiada yang peduli. Manusia hanya sibuk bersenang-senang dengan
cinta yang dia punya tanpa tahu lebih banyak tragedi senja. Manusia penikmat senja, menikmati senja
bersama kekasihnya. Memamerkan
keromantisannya di bawah aroma senja.”
Mereka terdiam.
“Padahal, senjalah yang
berkontribusi sehingga suasana itu menjadi romantis. Kasihan senja. Melihat ribuan manusia memadu kasih. Sedangkan, dia sendiri tak bisa itu.” Tambah Ve.
Pernyataan Ve ada benarnya. Mengenai senja yang selalu kesepian tanpa
kekasihnya. Tapi bagi Damar, itu terlalu
konyol. Ve terlalu gila dan tak waras
mengurus senja yang seperti itu.
“Kau...” ucap Damar, “kau lucu. Kau mulai tak waras Ve.” Katanya sambil tertawa. Tubuhnya bergerak mengikuti gelak tawanya.
Aura Ve berubah. Kini semakin buruk, penuh dengan rasa
negatif. Ve tampak kecewa melihat reaksi
Damar.
Baginya, ini sebuah keseriusan. Keseriusan yang muncul dalam hatinya, sebuah
rasa dengan hati. Penikmat senja, tapi
ingin tahu tragedinya. Dengan pikirannya
sendiri. Pikiran yang terus berporos dan
tak mau lepas dari pusarannya.
“Aku serius Damar!”
Damar terdiam. Tawanya terhenti.
***
Sejak kejadian itu, Ve dan Damar jarang bertemu. Dua minggu terakhir, Ve tidak pernah ke
kampus lagi. Damar menjadi khawatir
dengan Ve. Ia merasa bersalah kepada Ve. Ada apa dengannya? Ia sudah berusaha mencari tahu di mana Ve,
tetapi tak ada informasi yang ia dapatkan.
Setiap Damar ke rumah Ve, dia tak pernah di rumah. Orang tuanya juga tidak tahu, ke mana Ve
pergi.
Pada suatu senja di sudut Jogja,
tanpa sengaja Damar bertemu dengan Ve.
Kali ini Ve berada di Kafe Sunrise Senturan sendirian. Dengan drawing book ukuran A3 dihadapannya
dan pensil 2b hijau tua di tangan kanannya.
“Ve...” sapa Damar pelan.
Ve kaget, dia segera menutup
lukisannya. Sebelumnya, Damar sempat
melirik sketsa yang Ve buat. Tapi tidak
begitu jelas. Hanya terlihat gambar
matahari yang mulai terbenam. Ve
terdiam, lalu mengambil secangkir hot
chocolate seolah tak ingin tahu keberadaan Damar.
“Ve,” sapa Damar lagi.
Tak ada sahutan. Ve menelan minuman yang baru saja masuk ke
dalam rongga mulutnya.
Damar tak kehabisan akal. Ia menarik kursi dan duduk di samping kanan
Ve. Sepasang matanya menatap Ve dengan
redup. Pandangan Ve kosong. Wajahnya putih bersih. Tapi redup.
Damar mencoba mendekatkan diri dan mulai memasuki garis nyaman Ve. Ia menggenggam tangannya.
“Ve...” kata Damar pelan, “aku minta maaf.”
Ve tak merespon. Terdengar napas Damar yang mendesah
panjang. Damar mencoba mencari cara
lain. Ia menoleh pada sudut ruangan itu,
lalu kembali menatap Ve.
“Aku tahu aku salah. Aku mentertawakanmu sore itu. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu
kepadamu. Aku ingin, hubungan kita
seperti dulu Ve. Tidak seperti
ini.” Kata Damar.
“Ya.” Kata Ve hampir tak terdengar. Dia menarik tangannya yang dipegang Damar.
“Kamu serius memaafkan aku?” tanya Damar lagi.
“Iya. Mar.”
Ve mengangguk.
Bahasa tubuh dan komunikasi
mereka masih terlihat dingin dan kaku.
Damar berusaha masuk ke dalam perasaan Ve.
Entah, apa yang Damar lakukan
hingga hubungan itu makin lama akhirnya kembali membaik. Beberapa senyum yang indah mulai muncul dari
bibir Ve. Begitu juga dengan Damar.
Bahkan, mereka sempat tertawa dan bercanda setelah beberapa menit yang
lalu hanya bungkam.
“Jadi, kau ingin memberikan
sketsa senja ini untuk fajar?” tanya
Damar.
“Iya. Fajar pasti senang bisa menatap senjanya. Meski hanya sebuah lukisan.” Katanya.
“Mereka adalah sepasang kekasih yang tak pernah memandang, bertemu,
apalagi beradu. Mungkin sketsa ini mampu
mengobati kerinduannya. Bisa menceritakan
dan mendiskripsikan kekasihnya yang mulai renta itu. Dan menghilang ditelan usia.”
“Baiklah.” Damar mengangguk.
Sejujurnya, Damar bingung juga
dengan kemauan Ve yang ingin mempertemukan fajar dengan senja lewat sketsa
itu. Itu tindakan bodoh, tidak cerdas,
dan tidak masuk akal. Entah siapa yang
mulai tak waras. Dirinya, atau Ve dengan
sikapnya yang dibilang tak masuk akal itu.
Ia tidak mengerti, apa yang ada dalam pikiran Ve.
Damar hanya mengikuti kemauan Ve,
cara berpikir Ve yang sedikit aneh. Ia mencoba
memasuki jalan pikirannya meskipun, sulit.
Ia tidak mau hubungannya berantakan lagi lantaran ia selalu mentertawai
tindakan Ve yang konyol itu.
Pada suatu sore, Damar mengajak
Ve ke Bukit Bintang yang terletak di Patuk, Gunungkidul sebagai permintaan
maafnya kepada Ve.
“Kamu bisa menikmati dan mengeja
senja lebih baik di sini untuk sketsamu itu.
Di sini jauh lebih baik kan?”
tanya Damar.
Ve tersenyum, dia
mengangguk. Matanya berbinar.
“Terima kasih. Ini senja terindah dalam hidupku.”
“Melukislah dengan ini.” Damar memberikan kanvas dan cat air yang dia
bawa dari Jogja.
Damar kini seolah telah masuk ke
dalam pusaran pikiran Ve. Mengikuti, dan
mulai melakukan apa yang dilakukan Ve.
Kini mereka melukis senja.
Melukis senja yang esok harinya diberikan kepada fajar di Gunung Api
Purba Nglanggeran. Lebih tepatnya,
setelah lukisan senja itu terbentuk sempurna selama lima hari senja
berturut-turut di Bukit Bintang.
Fajar menyinari senja itu dengan
hangat. Memantulkan cahaya terangnya
hingga senja itu bersinar kekuningan. Ve
tersenyum puas melihat tragedi itu.
Sebuah fajar yang menatap senja.
Damar sendiri, ia tersenyum melihat tingkah Ve yang sedikit aneh itu.
“Aku ingin, suatu saat senja juga
mampu menatap kekasihnya seperti ini.
Membaca ceritanya, atau apapun itu.”
Kata Ve sambil menatap senja pada pagi hari.
“Kau ingin melukis fajar untuk
senja?” tanya Damar.
“Mungkin.” Jawab Ve pelan. Matanya masih menatap lukisan itu. Jarinya menghusap lukisannya.
“Bukankah kau pernah bilang jika
senja sudah terlalu renta? Untuk kriteria
itu, mungkin dia sudah tidak mampu menatap dengan lebih baik lagi.” Kata Damar tidak beranjak dari tempat
duduknya.
Ve mengalihkan tatapannya pada
Damar. Dia terdiam mendengar
pernyataannya. Kali ini, Damar yang
mencoba menguasai pikiran Ve.
“Kau ingin menertawakanku
lagi?” tanya Ve.
“Tidak Ve. Tidak.”
Katanya, “kenapa kau tak menulis surat atau puisi saja untuk senja? Untuk pagi hari, suasana itu lebih indah
untuk berpuisi bukan? Menurutku, itu
mampu memberikan diskripsi fajar yang lebih baik.”
Kali ini Damar yang
menguasai. Ve mengangguk setuju dengan
apa yang dikatakan Damar. Kini, Ve yang
mulai mengikuti cara berpikir Damar.
Mempertemukan senja dengan kekasihnya melalui puisi.
“Iya, kamu benar. Aku akan menulis puisi untuk senja.” Kata Ve.
***
Dibukanya kertas warna tosca yang terlipat rapi itu. Seperti puisi, mungkin surat, atau puisi di
dalam surat? Atau... surat di dalam
puisi? Entahlah.
Aku
mencintaimu seperti fajar dan senja
tak
pernah memandang, bertemu, bahkan beradu.
Memang
seharusnya seperti itu.
Aku
tak pernah tahu kamu, kamu tak pernah tahu aku
dalam dasar
hati yang paling dalam.
Aku
mencintaimu seperti fajar dan senja
tak
pernah memandang, bertemu, bahkan beradu.
Seharusnya
tetap seperti itu.
Aku mau itu, karena aku ingin kita begitu
dengan rasa
yang tak pernah kau tahu.
Aku pernah
jatuh cinta kepada lelaki. Lelaki yang
dijodohkan untuk perempuannya.
Jika
kita bisa menyatukan kedua anak adam yang berjodoh dengan rasa cinta,
maka
tidak untuk diriku.
Jika
aku mampu mempertemukan fajar dan senja lewat lukisannya,
maka tidak
untuk diriku.
Kita tak
pernah tahu, ke mana sebuah kisah akan bermuara. Tapi di sinilah kita berakhir.
Penyakit
kistaku telah membawaku pada perbatasan usia, Damar. Seperti senja yang menghilang ditelan
malam. Di sanalah aku berada. Itu sebabnya kenapa aku selalu iba kepada
senja.
Kini aku
menikmati senja di surga, melukisnya lalu memberikannya kepada fajar setiap
pagi.
Senja di surga
lebih indah, Damar. Tidak seperti di
rumahku dulu. Aku berharap, kita bisa
bertemu lagi di sini. Aku menunggumu.
Aku ingin melukis senja berdua bersamamu seperti dulu. Di surga. Jika dunia tidak menjodohkan kita
dalam cinta yang saling menyapa, setidaknya aku masih menyimpan harapan di
surga. Lelaki dengan kemeja sesiku yang aku cintai.
Ve
Alfria
Kini Damar tahu, apa sebabnya Ve
selalu menatap senja dan mendiskripsikan senja seperti itu. Bagi Ve, senja adalah dirinya. Senja yang akan menghilang. Ditelan usia.
Kini Damar juga tahu, ternyata Ve
mencintainya. Di saat Damar
kehilangannya.
Sleman, 15 Agustus 2014
Wanda Sp

